Bagaimanakah Perjalanan Kurikulum Nasional (pada Pendidikan Dasar dan Menengah) ?

Oleh : R. Bambang A. Soekisno

Selayang Pandang Perjalanan Kurikulum Nasional

Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan direncanakan pada tahun 2004. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.

a. Kurikulum 1968 dan sebelumnya

Awalnya pada tahun 1947, kurikulum saat itu diberi nama Rentjana Pelajaran 1947. Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.

Setelah Rentjana Pelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Pada tahun 1952 ini diberi nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.


b. Kurikulum 1975

Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menggunakan pendekatan-pendekatan di antaranya sebagai berikut.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Berorientasi pada tujuan

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Menganut pendekatan integrative dalam arti bahwa setiap pelajaran memiliki arti dan peranan yang menunjang kepada tercapainya tujuan-tujuan yang lebih integratif.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Menekankan kepada efisiensi dan efektivitas dalam hal daya dan waktu.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Sistem yang senantiasa mengarah kepada tercapainya tujuan yang spesifik, dapat diukur dan dirumuskan dalam bentuk tingkah laku siswa.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Dipengaruhi psikologi tingkah laku dengan menekankan kepada stimulus respon (rangsang-jawab) dan latihan (drill).

Kurikulum 1975 hingga menjelang tahun 1983 dianggap sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat dan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan sidang umum MPR 1983 yang produknya tertuang dalam GBHN 1983 menyiratakan keputusan politik yang menghendaki perubahan kurikulum dari kurikulum 1975 ke kurikulum 1984. Karena itulah pada tahun 1984 pemerintah menetapkan pergantian kurikulum 1975 oleh kurikulum 1984.

<!–[if !supportLists]–>c. <!–[endif]–>Kurikulum 1984

Secara umum dasar perubahan kurikulum 1975 ke kurikulum 1984 di antaranya adalah sebagai berikut.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Terdapat beberapa unsur dalam GBHN 1983 yang belum tertampung ke dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Terdapat ketidakserasian antara materi kurikulum berbagai bidang studi dengan kemampuan anak didik

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Terdapat kesenjangan antara program kurikulum dan pelaksanaannya di sekolah

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Terlalu padatnya isi kurikulum yang harus diajarkan hampir di setiap jenjang.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) sebagai bidang pendidikan yang berdiri sendiri mulai dari tingkat kanak-kanak sampai sekolah menengah tingkat atas termasuk Pendidikan Luar Sekolah.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Pengadaan program studi baru (seperti di SMA) untuk memenuhi kebutuhan perkembangan lapangan kerja.

Atas dasar perkembangan itu maka menjelang tahun 1983 antara kebutuhan atau tuntutan masyarakat dan ilmu pengetahuan/teknologi terhadap pendidikan dalam kurikulum 1975 dianggap tidak sesuai lagi, oleh karena itu diperlukan perubahan kurikulum. Kurikulum 1984 tampil sebagai perbaikan atau revisi terhadap kurikulum 1975. Kurikulum 1984 memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Berorientasi kepada tujuan instruksional. Didasari oleh pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Pendekatan pengajarannya berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secara fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Materi pelajaran dikemas dengan nenggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Menanamkan pengertian terlebih dahulu sebelum diberikan latihan. Konsep-konsep yang dipelajari siswa harus didasarkan kepada pengertian, baru kemudian diberikan latihan setelah mengerti. Untuk menunjang pengertian alat peraga sebagai media digunakan untuk membantu siswa memahami konsep yang dipelajarinya.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Materi disajikan berdasarkan tingkat kesiapan atau kematangan siswa. Pemberian materi pelajaran berdasarkan tingkat kematangan mental siswa dan penyajian pada jenjang sekolah dasar harus melalui pendekatan konkret, semikonkret, semiabstrak, dan abstrak dengan menggunakan pendekatan induktif dari contoh-contoh ke kesimpulan. Dari yang mudah menuju ke sukar dan dari sederhana menuju ke kompleks.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Menggunakan pendekatan keterampilan proses. Keterampilan proses adalah pendekatan belajat mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukkan keterampilan memperoleh pengetahuan dan mengkomunikasikan perolehannya. Pendekatan keterampilan proses diupayakan dilakukan secara efektif dan efesien dalam mencapai tujuan pelajaran.

<!–[if !supportLists]–>d. <!–[endif]–>Kurikulum 1994

Pada kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang memperhatikan muatan (isi) pelajaran. Hal ini terjadi karena berkesesuaian suasan pendidikan di LPTK (lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan) pun lebih mengutamakan teori tentang proses belajar mengajar. Akibatnya, pada saat itu dibentuklah Tim Basic Science yang salah satu tugasnya ikut mengembangkan kurikulum di sekolah. Tim ini memandang bahwa materi (isi) pelajaran harus diberikan cukup banyak kepada siswa, sehingga siswa selesai mengikuti pelajaran pada periode tertentu akan mendapatkan materi pelajaran yang cukup banyak.

Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.

Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi)

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban), dan penyelidikan.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa.

Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.

Permasalahan di atas terasa saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum 1994. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan itu diberlakukannya Suplemen Kurikulum 1994. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan berbagai aspek terkait, seperti tujuan materi, pembelajaran, evaluasi, dan sarana/prasarana termasuk buku pelajaran.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah.

Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap, yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang.

<!–[if !supportLists]–>e. <!–[endif]–>Kurikulum Berbasis Kompetensi – Versi Tahun 2002 dan 2004

Usaha pemerintah maupun pihak swasta dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan terutama meningkatkan hasil belajar siswa dalam berbagai mata pelajaran terus menerus dilakukan, seperti penyempurnaan kurikulum, materi pelajaran, dan proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Soejadi (1994:36), khususnya dalam mata pelajaran matematika mengatakan bahwa kegiatan pembelajaran matematika di jenjang persekolahan merupakan suatu kegiatan yang harus dikaji terus menerus dan jika perlu diperbaharui agar dapat sesuai dengan kemampuan murid serta tuntutan lingkungan.

Implementasi pendidikan di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Salah satu bentuk inovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan inovasi di bidang kurikulum. Kurikulum 1994 perlu disempurnakan lagai sebagai respon terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi desentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU No. 22 dan 25 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah.

Kurikukum yang dikembangkan saat ini diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi. Pendidikan berbasis kompetensi menitikberatkan pada pengembangan kemampuan untuk melakukan (kompetensi) tugas-tugas tertentu sesuai dengan standar performance yang telah ditetapkan. Competency Based Education is education geared toward preparing indivisuals to perform identified competencies (Scharg dalam Hamalik, 2000: 89). Hal ini mengandung arti bahwa pendidikan mengacu pada upaya penyiapan individu yang mampu melakukan perangkat kompetensi yang telah ditentukan. Implikasinya adalah perlu dikembangkan suatu kurikulum berbasis kompetensi sebagai pedoman pembelajaran.

Sejalan dengan visi pendidikan yang mengarahkan pada dua pengembangan, yaitu untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan kebutuhan masa datang, maka pendidikan di sekolah dititipi seperangkat misi dalam bentuk paket-paket kompetensi.

Kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu (Puskur, 2002a). Dasar pemikiran untuk menggunakan konsep kompetensi dalam kurikulum adalah sebagai berikut.

(1) Kompetensi berkenaan dengan kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks.

(2) Kompetensi menjelaskan pengalaman belajar yang dilalui siswa untuk menjadi kompeten.

(3) Kompeten merupakan hasil belajar (learning outcomes) yang menjelaskan hal-hal yang dilakukan siswa setelah melalui proses pembelajaran.

(4) Kehandalan kemampuan siswa melakukan sesuatu harus didefinisikan secara jelas dan luas dalam suatu standar yang dapat dicapai melalui kinerja yang dapat diukur.

(Puskur, 2002a).

Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2) keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya (Puskur, 2002a).

Rumusan kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah dan sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten.

Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu:

<!–[if !supportLists]–>(1) <!–[endif]–>pemilihan kompetensi yang sesuai;

<!–[if !supportLists]–>(2) <!–[endif]–>spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi;

<!–[if !supportLists]–>(3) <!–[endif]–>pengembangan sistem pembelajaran.

Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

(Puskur, 2002a).

Struktur kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dalam suatu mata pelajaran memuat rincian kompetensi (kemampuan) dasar mata pelajaran itu dan sikap yang diharapkan dimiliki siswa. Mari kita lihat contohnya dalam mata pelajaran matematika, Kompetensi dasar matematika merupakan pernyataan minimal atau memadai tentang pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak setelah siswa menyelesaikan suatu aspek atau subaspek mata pelajaran matematika. (Puskur, 2002b). Kompetensi Dasar Mata Pelajaran Matematika merupakan gambaran kompetensi yang seharusnya dipahami, diketahui, dan dilakukan siswa sebagai hasil pembelajaran mata pelajaran matematika. Kompetensi dasar tersebut dirumuskan untuk mencapai keterampilan (kecakapan) matematika yang mencakup kemampuan penalaran, komunikasi, pemecahan masalah, dan memiliki sikap menghargai kegunaan matematika.

Struktur kompetensi dasar Kurikulum Berbasis Kompetensi ini dirinci dalam komponen aspek, kelas dan semester. Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran, disusun dan dibagi menurut aspek dari mata pelajaran tersebut.

Pernyataan hasil belajar ditetapkan untuk setiap aspek rumpun pelajaran pada setiap level. Perumusan hasil belajar adalah untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang harus siswa ketahui dan mampu lakukan sebagai hasil belajar mereka pada level ini?”. Hasil belajar mencerminkan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas kurikulum dinyatakan dengan kata kerja yang dapat diukur dengan berbagai teknik penilaian.

Setiap hasil belajar memiliki seperangkat indikator. Perumusan indikator adalah untuk menjawab pertanyaan, “Bagaimana kita mengetahui bahwa siswa telah mencapai hasil belajar yang diharapkan?”. Guru akan menggunakan indikator sebagai dasar untuk menilai apakah siswa telah mencapai hasil belajar seperti yang diharapkan. Indikator bukan berarti dirumuskan dengan rentang yang sempit, yaitu tidak dimaksudkan untuk membatasi berbagai aktivitas pembelajaran siswa, juga tidak dimaksudkan untuk menentukan bagaimana guru melakukan penilaian. Misalkan, jika indikator menyatakan bahwa siswa mampu menjelaskan konsep atau gagasan tertentu, maka ini dapat ditunjukkan dengan kegiatan menulis, presentasi, atau melalui kinerja atau melakukan tugas lainnya.


<!–[if !supportLists]–>f. <!–[endif]–>Kurikulum Berbasis Kompetensi – Versi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)

Pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan pendidikan diwujudkan dalam program wajib belajar 9 tahun. Peningkatan mutu pendidikan diarahkan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya melalui olahhati, olahpikir, olahrasa dan olahraga agar memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan global. Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.

Implementasi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijabarkan ke dalam sejumlah peraturan antara lain Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: (1)standar isi, (2)standar proses, (3)standar kompetensi lulusan, (4)standar pendidik dan tenaga kependidikan, (5)standar sarana dan prasarana, (6)standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan (7)standar penilaian pendidikan.

Kurikulum dipahami sebagai seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu, maka dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005, pemerintah telah menggiring pelaku pendidikan untuk mengimplementasikan kurikulum dalam bentuk kurikulum tingkat satuan pendidikan, yaitu kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di setiap satuan pendidikan.

Secara substansial, pemberlakuan (baca: penamaan) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) lebih kepada mengimplementasikan regulasi yang ada, yaitu PP No. 19/2005. Akan tetapi, esensi isi dan arah pengembangan pembelajaran tetap masih bercirikan tercapainya paket-paket kompetensi (dan bukan pada tuntas tidaknya sebuah subject matter), yaitu:

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.

<!–[if !supportLists]–>* <!–[endif]–>Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan kurikulum berbasis kompetensi sebelumnya (versi 2002 dan 2004), bahwa sekolah diberi kewenangan penuh menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang telah ditetapkan, mulai dari tujuan, visi – misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan, hingga pengembangan silabusnya.

(disebarluaskan juga oleh S Cipto A  dengan alamat http://kesadaransejarah.blogspot.com dan oleh http://www.e-smartschool.com, serta oleh http://alumni-xaverius.zai.web.id)

69 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    faiq berkata,

    Wah komplit juga pak postingannya…, mohon ijin saya copy ya??

  2. 2

    rbaryans berkata,

    @faiq
    silahkan mas, asal menyebutkan saja sumbernya.

  3. 3

    faiq berkata,

    OK, pak. Jangan kuatir…, saya sebutkan komplit plus link-nya. Terima kasih banyak.

  4. 4

    NAZHIROH berkata,

    permisi pak, saya mohon izin untuk meng copy nya. Saya akan menyebutkan komplit sumbernya. terima kasih pak…

  5. 5

    kangguru berkata,

    pendidikan jeblok yang diganti kurikulum, ngajar ya gimane ana aja deh

  6. 6

    rbaryans berkata,

    @Nazhiroh
    silahkan semoga bermanfaat untuk dunia pendidikan kita

    @Kangguru
    lebih baik: ngajar gimana ya…

  7. 7

    wargabanten berkata,

    Dunia Pendidikan dari dulu sampai sekarang blom ada kejelasan yang pasti… Beda pimpinan – beda kebijakan… Begitu juga dalam dunia pendidikan.
    Ganti Pimpinan – Ganti juga Pola Pendidikan… Untuk 2007 UNAS.. Besuk apalagi ya..?

    kalo beda pimpinan-beda kebijakan itu berarti salah satu cara untuk mencari solusi agar dunia pendidikan kita lebih baik (kata mereka yang merasa pejabat).
    besok?? ya ganti kebijakan lagi….

  8. 8

    Feman berkata,

    Klo Bisa pemerintah dalam hal ini Diknas harus segera mensosialisasikan Kurikulum ini agar dapat di terapkan oleh guru-guru se Indonesia. Dalam kesempatan ini saya minta tolong ama pengasuh kalo bisa saya dikirimin contoh cara pengajaran pembelajaran terpadau untuk mata pelajaran IPS kelas V dan VI Sekolah Dasar soalnya saya butuh sekali…. Trims sebelumnya

    Sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sudah dilakukan olh pemerintah melalui depdiknas.
    Contoh Pembelajaran Terpadu? Nanti saya tampilkan ya…harap bersabar…

  9. 9

    yanti herlanti berkata,

    Mas, artikel ini kirim ke ana ya! dari mana dapatnya? matur nuwun dari ana yang di yogya, salam kangen

    Istri ku…tulisan ini ada di dalam laptop, tepatnya tdk begitu ingat di laptop mana ya…
    dapatnya ya dari laptop hik hik…

  10. 10

    Ramdhani Miftah berkata,

    Aduh…..pusing gunta ganti melulu!!!kapan penantian ini akan berakhir menemukan pola sejati???satu sisi bagus, karena ada upaya untuk melakukan perbaikan, tapi disisi lain ada kecenderungan bersifat politis.pergantian pemerintah identik dengan pergantian pola pendidikan!coba…..dari dulu ga ganti, ketika Kurikulum th.1975 tuh….pada waktu itu kan malaysia sempet belajar dari indonesia dan mereka mengadopsinya untuk di negara mereka sendiri, tentunya tidak asal jiplak!!!Ah….liat dulu deh sebetulnya sistem pendidikan kita menganut faham mana sih?kayaknya sih Sekularisme_materialistik coba liat cenderung kepada bisnis kan.yang miskin nganggur!!!gmn komentar bapak, apa sebetulnya yang harus kita lakukan??sami’na wa ‘atho’na…

    Mas Ramdhan…gunta-ganti itu dilakukan dalam rangka perbaikan dan mengimbangi perkembangan IPTEK pada Zamannya. Waduh…kalau masalah paham mana saya jadi gak paham nih mas…

  11. 11

    salman berkata,

    na ini yang aku cari,
    syukron yo……!

    Silahkan mas untuk dipergunakan demi kemajuan dunia pendidikan…he he …

  12. 12

    hery berkata,

    kalo kurikulum sebelum tahun 68 gimana to? apa ada perbedaan dengan yang sekarang apa yang membedakan? thanks

    itu sudah tertulis dengan rinci di atas, tinggal dibaca saja…met baca ya…

  13. 13

    Yesi Noviyanti berkata,

    wah…… ini oke banget pak. buat kami yang baru memasuki dunia kependidikan bagus banget untuk perbandingan.

    Ya semoga bermanfaat, terutama bagi CAGUR (Calon Guru), Guru dan pendidik pada umumnya….
    Saudara Jangan-jangan mahasiswa saya…???
    semester berapa?

  14. 14

    wargabanten berkata,

    Say cuma lihat fotonya saja.. gak baca artikelnya… He.. he..

    meuni geuleuh… sudara mah…he he he

  15. 15

    enggar berkata,

    lieur ya pak. btw, untuk KTSP itu sepertinya nantinya setiap sekolah mempunyai indikator yang berbeda-beda ya? Atau gimana? Terima kasih.

    Mungkin juga begitu…disesuaikan dengan karakteristik sekolah…

  16. 16

    hafshah berkata,

    Assalamu’alaikum
    boleh copy kan?
    jazakallohu khoir atas ijinnya. skali lagi makasih banyak..

    mangga asal menyebutkan sumbernya saja bila digunakan sebagai bahan rujukan….mugia aya manfaatna…

  17. 17

    Sage berkata,

    Mas, saya copy ya datanya buat tugas. soalnya datanya mas komplit n bagus banget.. tenang aja Mas pasti saya buat refrensinya…

    Thank you ya Mas ya…

    Silahkan selama itu untuk kebaikan…

  18. 18

    emma_co berkata,

    maz..makasih banyak ya,saya copy ya buat referensi,maklum baru mau nyusun tugas TA

    Silahkan…jangan lupa tulis sumbernya ya itu adalah cara mengutip yang benar…

  19. 19

    OMI SILITONGA berkata,

    its great !!! bagi saya sebagaia seorang calon pendidik data bapak sangat penting sebagai sumber informasi dan jalan tuk jalani visi saya untuk pendidikan Indonesia. Thank you so much

    sama-sama…

  20. 20

    yeni berkata,

    Bolehkah saya minta isi dari kurikulum 1968 khususnya kurikulum untuk pelajaran IPS di SD? Thanks before………….

    Boleh…Tapi sabar ya saya cari dulu…

  21. 21

    findi berkata,

    Allamdulillah menemukan web site ini, semoga menjadi sumber refensi dan bermanfaat. Saya minta ijin mengkopi nggih… sebagai bahan untuk belajar…
    jazakumullah

    Amiiiiinnn, Silahkan mba semoga ini menjadi amal ibadah saya…jangan lupa kalau dijadikan referensi cantumkan sumbernya ya….

  22. 22

    susi purwandari_UKSW berkata,

    coment saya sama seperti temen2 lainnya, MAKASIH BANYAK………..
    tapi klo boleh minta tolong,tolong saya dikirimi lewat email saya tentang contoh RPP bahasa indonesia kelas 1 itu lho pak yang pembelajarannya dengan satu tema.
    semoga Qta sama2 bisa menjadi orang sukses sehingga mampu menyehatkan pendidikan di indonesia ini. amin……
    makasih,,,,

    Sama-sama bu…tapi jangan lupa menuliskan sumbernya ya….nanti saya coba cari ya bu RPP nya…
    saya sudah sukses bu…tapi dalam rumah tangga hik hik hik….

  23. 23

    yuniar berkata,

    thanx abiz ya…ngebantu bgt bwt tugas kampuz..

    lengkap bgt.. TOP punya…

    comment-nya..

    kenapa pemerintah selalu sibuk ganti-ganti nama kurikulum???? padahal kenyataannya sama aja,, pendidikan di negeri kita masih gini2 ja……

    mungkin yang harus diganti bukan nama kurikulumnya,, tapi pola pengajarannya.. dan penyampaian materi tiap mata pelajaran…..

  24. 24

    Mega berkata,

    Thank’s a lot deh pa’, for these articles. Boleh Kopi kan pa’?

  25. 25

    Aryani berkata,

    Trimakasih banyak buat artikelnya…
    Sangat membantu untuk mengenal secara cepat perkembangan kurikulum di Indo.

    Kalau boleh memberi saran. Bisa tidak di cantumkan daftar pustakanya, biar yang ikut membaca bisa tahu sumber dari artikel ini :)

    Kalau boleh juga saya minta tolong :) apa bapak punya kurikulum 1994 untuk bidang pelajaran sains tingkat SMP kelas 3 atau SMA kelas 1-2? Untuk tugas nih pak :D

    Terimakasih banyak sebelumnya.

    Salam,

    Aryani

    He he he… Cantumkan saja sumber yang ini atuh Mba… seperti menurut ANU (dalam INU) mengatakatan…. :)

  26. 26

    Mega berkata,

    Artikelnya membantu sekali pa’. karena dengan pemaparannya kita lebih mengetahui tentang kurikulum di indonesia yang always changing. Slogannya “Ganti Pemimpin, Otomatis ganti kebijakan” . Terus aja deh Bapak-bapak Pemimpin. kami mendukung kok! wish u the best

    Makasih atas kunjungannya…

  27. 27

    Mega berkata,

    Pa’ boleh minta keterangan lebih lanjut tentang KTSP gak Pak? khususnya tentang Bahasa INggris. penting sekali pak untuk bahan Skripsi saya pa’. kalau boleh, kirim lewat email saya aja pa’. saya mohon pa’. trims

    Insya Alloh Ada…, mudah-mudah sempat ya saya ngirimnya… :D

  28. 28

    Tatag berkata,

    Wah komplet juga arsip kurikulumnya. Kalau boleh saya bisa pinjam sumber kurikulum tahun sebelum 2000. Saya gunakan tuk ngajar, biar tahu sejarah bagaimana> Syukron

    Ada tapi dalam bentuk Hard Copy…saya kesululitan dalam perijinan publikasi pak… :D

  29. 29

    c1p berkata,

    Ijin copi tulisan tentang sejarah kurikulum sekolah. Thanks ya…
    Silahkan asal dengan cara yang ma’ruf… :)

  30. 31

    dedidwitagama berkata,

    Sangat bermanfaat, sukron

  31. 32

    RahmyMahirani berkata,

    mas,saya ngopy karyanya mas ya……. coz aq suruh ngamati perubahan kurikulum pndidikan d indonsia. syukron n Alloh yubarik….:)

  32. 33

    achy berkata,

    salam..

    sblmx sy bersyukur sekali bs menemukan blog ini, trdftar sbg mahasiswi matematika di satu PT swasta di makassar, tentu sangat terbntu dgn informasi yg diberikan penuls blog ini. kalau boleh memberi saran demi kesempurnaan artikel yg satu ini, ada baikx setiap pembahasan kurikulum disertai dgn silabus..mohon maaf ats saran sy..

    Terimakasih atas sarannya, tak perlu minta maaf…

  33. 34

    mashadi berkata,

    assalamualaikum….pak saya mau copi boleh…ya?tapi jangan kuatir akan saya sebutkan sumbernya….maakasih pak

  34. 35

    Slamet Zakaria berkata,

    Dari perjalanan kurikulum yang ada muliai tahun 1947 sampai dengan sekarang, sebetulnya tidak ada yang berbeda dari kurikulum tersebut. Semuanya sama yaitu bertujuan untuk menjadikan siswa mimiliki pengetahuan, ketrampilan dan ahlak mulia atau istilah sekarang kompetensi. Siapa pun pemimpin atau pejabat dalam dunia pendidikan sebetulnya tidak terlalu berpengaruh banyak, yang pasti kebijakan yang diambilnya dalam rangka peningkatan mutu dan kualitas siswa, sebagai generasi pewaris bangsa kelak. Tapi… di akui pendidikan kita sangat terbelakang jika dibandingkan dengan negara lain. Keterbelakangan ini bukan berati ganti pemimpin atau kurikulum, akan tetapi anggaran terhadap pendidikan kurang, serta kurangnya penghargaan pemerintah terhadap para guru, guru tidak profesional karena perhatian guru tersebut terbagi, disisi lain sebagai pendidik tapi disisi lain sebagai buruh untuk menambah penghasilannya demi kelanjutan hidupnya.
    Akankah sekarang guru sejaterah dengan adanya sertifikatasi guru ??? ini adalah wujud perhatian pemerintah, namun sayang …. pemerintah belum serius mensejaterahkan guru tersebut.
    Akhirnya pendidikan kita hanya berjalan ditempat saja. Tapi saya yakin…para guru walaupun tidak dijanjikan kesejateraan seperti itu, mereka tetap ikhlas mengabdi pada nusa dan bangsa ini sampai darah penghabisan. Hidup… pahlawan tanpa tanda jasa. hidup guruku.

    terimakasih pak atas komentarnya…

  35. 36

    koderi,S.Pd.SD. berkata,

    KTSP hendaknya dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. mengingat KTSP yang memberikan keluasan bagi sekolah dan guru untuk mengembangkan pendidikan. jangan dinas masih mendikte selalu. contoh soal evaluasi semester dan mid semester. dinas selalu memaksa harus memakai, buku paket dll.

    setuju pak… :-)

  36. 37

    Anindita berkata,

    Ada pertanyaan nih pak, kalau memang KTSP memberikan kebebasan kepada sekolah2 di masing2 daerah untuk mengembangkan kurikulum sesuai dgn kebutuhannya mrk dgn cara mengajarnya masing2, kenapa kok masih ada yang namanya UNAS? Kayanya kok unfair sekali murid hanya dinilai dr hasil UNAS. Yang lebih menyebalkannya lagi, beberapa guru yang saya kenal, kalau saya menunjukkan cara baru untuk mengajar yang lebih menyenangkan dan meaningful mereka ada kecenderungan untuk menolak dengan dalih kurikulum, tidak ada wkt utk hal spt itu dan persiapan UNAS. Masa dari kelas satu sampai kelas 3 SMA persiapan UNAS melulu. Kalo murid bs mendapatkan sesuatu yang meaningful knp tdk dicoba? Susah sekali ya merubah “the teachers’s belief” yg kayanya sudah fossilized. Kapan majunya dong kalo gt? Saya bkn pengajar di sekolah formal jd kurang mengerti masalah sulitnya kurikulum di sekolah. Emangnya gak bisa ya daripada menyalahkan kurikulum,mencoba utk menggunakan kurikulum tersebut untuk mjd lebih baik. Working around the problem instead of trying to cut it off completely?

    Tadinya saya td mau jawab tapi…ya saya jawab saja lah…
    UNAS memang kontraversi, beragam tanggapan terhadapnya. kalau yang punya kuasa dinegeri ini bilang UNAS mesti ada, ya kita mesti manut…(terpaksa neh gw ngomong jujur he he…)
    Yang lebih menyebalkannya lagi, beberapa guru yang saya kenal, kalau saya menunjukkan cara baru untuk mengajar yang lebih menyenangkan dan meaningful mereka ada kecenderungan untuk menolak dengan dalih kurikulum…
    Kalau itu semestinya tidak terjadi, sehingga tugas kita termasuk nona dita juga mesti memberi tahu guru2 yang punya prilaku menyimpang. Kurikulum tingkat satuan pendidikan (yang disingat KTSP = kurikulum tidak semua paham) tidak seperti yang mereka bayangkan sulit, justru guru mesti memberikan pemahaman dan kebermaknaan pada siswanya, dengan berbagai strategi, teknik, dan metode pembelajaran. semoga tidak salah…
    :)

  37. 38

    nana berkata,

    law blh taw aejarah pnddkn i2 slain qt lht dr segi curriculum………… ada yg lain lg kh?………………

    ada, dari para tokoh pendidikan, sosial budaya, bahkan pengaruh dari para penjajah yang pernah singgah ke negeri ini… :-P

  38. 40

    ghofur berkata,

    bagus sekali…saya boleh kan mencopinya.

    silahkan asal dengan cara yang ma’ruf….
    :D

  39. 41

    dinar berkata,

    sy ijin untuk ngopi ya pak..untuk tugas kuliah.sumbernya pasti akan sy cantumkan

    boleh saja, asal bukan untuk komersil :)

  40. 42

    mycatatan berkata,

    afwan pak saya juga mau copy…boleh ya…dan pasti saya tulis juga sumbernya pak

  41. 43

    U_nie berkata,

    Assalamu’alaikum
    saya izin copy ya moga ilmunya berkah
    mohon do’anya agar kuliah saya berhasil…
    wassalam

  42. 44

    lloolliippoopp berkata,

    cape deh mikir kurikulum……………………….

  43. 45

    lloolliippoopp berkata,

    weeee,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

  44. 46

    John Wisdom berkata,

    I am very pround with you because you can help me. Thanks A lot

    terimakasih, karena saya sudah dapat membantu saudara.

  45. 47

    kalawarta berkata,

    Saya tertarik sekali dengan artikel ini, mohon ijin untuk ikut menyebarkan informasi ini ke dalam weblog saya. trims

    silahkan
    artikel ini sdh disebarluaskan di Tabloid Aksara yaitu Tabloid Pendidikan di Kota Bogor

  46. 48

    wandes berkata,

    qmi mau tanya neh coal kurikulum tahun 1984 smp,kira-kira apakah nama dari kurikulum tersebut.

  47. 49

    bery solo berkata,

    betapa banyaknya pergantian kurikulum tetap saja tidak akan mampu untuk memajukan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia. hemat saya adalah bukan permasalahan berganti2 kurikulumnya tetapi supporting sistem yang ada serta beberapa hal yang lainnya yang belum mampu untuk mengikuti perkembangan yang diinginkan oleh konsep yang dituangkan dalam kurikulum.
    salam kenal bery

  48. 50

    rbaryans berkata,

    sudah tentu tidak hanya kurikulum pak, ada beberapa faktor yang mesti dilihat dan itu akan mempengaruhi mutu pendidikan.
    saya fikir terlalu nista bila hanya karena kurikulum sehingga kwalitas pendidikan akan meningkat…
    salam kenal kembali

  49. 51

    Mahmudin berkata,

    mohon izin ngopy artikel ini

  50. 52

    junik_jegeg berkata,

    ijin saya copy ya…mau pake persiapan ujian skripsi saya…
    skalian minta doain semoga ujiannya lancar…he…makasi.

  51. 53

    satiia berkata,

    makasih nic!!!
    dapat banyak info tentang penddikan. sepertinya pemerintah belum bgitu percaya dengan sekolah-sekolah, karena itu mash menggunakan sistem UAN. padahal ada kata-kata sepert ni : Terdapat perbedaan mendasar dibandingkan dengan kurikulum berbasis kompetensi sebelumnya (versi 2002 dan 2004), bahwa sekolah diberi kewenangan penuh menyusun rencana pendidikannya dengan mengacu pada standar-standar yang telah ditetapkan, mulai dari tujuan, visi – misi, struktur dan muatan kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan, hingga pengembangan silabusnya. sepertinya : indonesia akan membutuhkan banyak waktu untuk mengembangkan pendidikannya.

  52. 54

    muhajir muslih berkata,

    Halo Pak Mendiknas, Pak Dirjen Pendidkan Dasar Menengah, Kenapa harus repot bikin kurikulum? Hanya heboh di nama saja tetepi isinya nol. Dana besar milyaran mending buat bangun Sekolah yang ambruk. Banyak sekolah international di sekitar jakarta kenapa tidak bekajar dari mereka. Contoh saja kurikulum IB, sudah lengkap dari penyususnan materi, evaluasi dan rambu- rambu evaluasimya. Sementara KTSP kita tidak jelas juntrungannya.

    Lihat saja kurikulum Bahasa Indonesia juga aneh. Masa siswa kita kan penutur asli bahasa itu kok materinya sama saja untuk anak – anak bule yang sedang belajar Bahasa Indonesia . Aneh dan dibiarkan begiru saja. Padahal berapa milyar proyek pengadaan buku fiksi? Mubasir!Karena tidak dijadikan bahan ajar.

    Itu baru salah satu sisi KETIDAK JELASAN KURIKULUM KTSP KITA! YANG HANYA HEBOH DI NAMA NOL ISINYA!

  53. 55

    muhajir muslih berkata,

    Halo Pak Mendiknas, Dirjen Pendidikan Dasar Menengah,

    Kalau bicara dunia pendidikan kita, saya jadi gregetan. Gara-gara itulah saya keluar dari PNS guru. Lalu saya bergabung dengan sekolah international. Saya menagajr dari Kurikulum 1975,1984,1998. Kalau dibandingkan dengan kurikulum IB yang memang siap pakai karena dijelaskan dari filosofinya, rambu -rambu materinya, rambu -rambu evaluasinya sampi daftar buku – buku yang dipakai.SEMUA ADA TERTULIS DENGAN JELAS.
    Tidak usah repot – repot. Adopsi saja Program IB kalau memang kita tidak bisa bikin.

  54. 56

    bening berkata,

    assalamu’alaikum…

    ma’af pak siang ini saya minta izin untuk ngeprin data bapak mengenai kurikulum yang ada di indonesia. saya kuliah di fakultas tarbiyah di salah satu kampus di banten. tujuan saya bukan apa-apa, cuma ingin tau kurikulum seperti apa sih yang ada di indonesia sebelum KBK dan KTSP. sebelum dan sesudahnya saya ucapkan trimakasih.
    sekali lagi pak, saya tidak ada maksud apa-apa selain hanya ingin menambah pengetaahuan mengenai kurikulum. trimakasih
    wassalam…

  55. 57

    rang padang berkata,

    makasi banyak yo,,,,,

  56. 58

    towel cake berkata,

    terima kasih ya..

  57. 59

    ismah berkata,

    mohon ijin mencopy biar ilmunya berkah ya pak……

  58. 61

    dessy pratiwi berkata,

    Untuk meningkatkan dunia pendidikan di Indonesia, maka diperlukan fasilitas yang dapat mendukung pembelajaran, oleh karena itu Pengimplementasian elearning yang telah menjadi bagian dari pembelajaran di lingkungan Universitas Gunadarama yang terus diperlukan oleh para pendidik dan mahasiswa, oleh karena itu Kami memiliki situs elearning yang dapat menjadi bahan referensi ataupun pengembangan pembelajaran, silahkan anda kunjungi situs kami http://elearning.gunadarma.ac.id

  59. 62

    ankmah berkata,

    saya “kopi ” ya pak tapiga pake gula he…. he…….

  60. 63

    Yulia Ridha Kencana berkata,

    mohon izin mengcopy ya mas, untuk tugas belajar pembelajaran. pasti disebutin nara sumbernya. matur nuwun.

  61. 64

    tika berkata,

    Pa isinya bagus bgt..Membantu dalam mengerjakan tugas2 saya..
    Tpi pa, boleh minta daftar pustakanya pa…
    Makasih sbelumnya pa

  62. 65

    widia berkata,

    ass…
    pak sya mhn ajin mngcopy untuk kpentingan tgs kuliahh,,
    trim’s..

  63. 66

    Abadi berkata,

    Yth. pak Bambang, bisa minta tolong dimana saya dapat copy dokumen resmi kurikulum-kurikulum kita? Kalo ada versi elektroniknya? Atau mungkin bapak bisa memberikan daftar referensi ttg kurikulum-kurikulum tersebut? Terima kasih. Salam

  64. 67

    tiara hilma duita berkata,

    terima kasih akhirnya atas wbst ini tugas kubisa slesai

  65. 68

    suherman berkata,

    inilah yang saya butuhkan. terima kasih pak

  66. 69

    suherman berkata,

    terima kasih postingnya.
    Namun saya ingin minta bantuan Bapak mengenai kurikulum.
    Saya merencanakan memberikan materi pemahaman kurikulum di cucus saya tapi saya bingung dari mana memulai rancangan. untuk itu tolong saya minta sistematika rancangan materi mengenai pemahaman kuri kulum SD untuk bahan penyampaian materi. terima kasih


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda