Sebagai konsekuensi ketetapan pemerintah tentang wajib belajar 9 tahun, maka anak-anak Indonesia minimum dapat mengenyam pendidikan sampai dengan jenjang pendidikan sekolah lanjutan tingkat pertama. Oleh karena itu, pendidikan formal melalui jalur sekolah ditujukan untuk mempersiapkan lulusannya agar dapat hidup dalam masyarakat dan mempersiapkan lulusannya yang berpotensi untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. Dalam upaya mencapai keinginan dan harapan itu, serangkaian kebijakan dan reformasi di bidang pendidikan, khususnya pembelajaran makin terus dikembangkan. Salah satunya melalui efektifitas pembelajaran tiap mata pelajaran. Begitu pula dengan pendidikan matematika di sekolah-sekolah diarahkan kepada wahana pendidikan untuk mengembangkan semua potensi yang dimiliki peserta didik dalam bentuk pengetahuan, kemampuan dan keterampilan dasar matematika agar setiap orang yang mempelajari matematika menjadi warga negara yang melek matematika.
Tantangan dan Harapan dalam Pembelajaran Matematika
Pada akhir abad 21, organisasi pendidikan se dunia, yaitu UNESCO telah menetapkan empat pilar utama pendidikan, yakni learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together in peace and harmony. Keempat pilar tersebut bukan merupakan suatu urutan, melainkan saling melengkapi satu dengan yang lainnya, sehingga dalam pembelajaran di tiap jenjang pendidikan guru dapat menciptakan suasana belajar yang memuat keempat pilar tersebut secara bersama-sama dan seimbang. Dengan merujuk pada Tujuan Pendidikan Nasional, ketetapan wajib belajar 9 tahun, hakekat matematika, dan keempat pilar di atas, maka harapan terhadap siswa pada pendidikan dasar dan menengah dalam matematika dapat dirumuskan sebagai berikut.
(1) Melalui proses learning to know, secara umum siswa diharapkan memiliki pemahaman dan penalaran terhadap produk dan proses matematika (apa, bagaimana, dan mengapa) yang memadai sebagai bekal melanjutkan studinya dan atau menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, dalam matematika ditanamkan kemampuan memberikan alasan dan menjelaskan serta memberikan prediksi terhadap suatu permasalahan. Sesuai dengan tahap perkembangan berpikirnya, para siswa belajar matematika mulai dari tingkat SD, SLTP, hingga SMU mempelajari matematika beranjak dari hal-hal konkrit hingga ke hal-hal abstrak/formal.
(2) Proses learning to do diharapkan memberi kesempatan kepada siswa memiliki keterampilan dan mendorong siswa mau melaksanakan proses matematika dalam bentuk doing math yang memadai dan memacu peningkatan perkembangan intelektualnya. Beberap alasan mengapa belajar matematika melakukan proses learning to do. Pertama, pembelajaran matematika berorientasi pada pendekatan konstruktivisme, di mana siswa membentuk pengetahuannya sendiri melalui proses asimilasi dan akomodasi. Kedua, pada dasarnya matematika merupakan proses yang aktif baik secara fisik maupun mental, proses dinamik, dan proses generatif. Dalam kaitan dengan learning to do siswa pada pendidikan dasar (SD dan SLTP) dan pendidikan menengah (SMU) didorong melaksanakan proses matematika (doing math) mulai dari yang sederhana hingga ke yang kompleks. Dalam matematika, diharapkan siswa dapat melaksanakan kegiatan matematika yang meliputi keterampilan perhitungan rutin dan non rutin serta berpikir tingkat tinggi yang melibatkan aspek pemecahan masalah dan penalaran matematika. Dalam usaha melaksanakan learning to do, persoalan dan permasalahan matematika di sekolah disajikan dengan bahasa dan konteks yang sesuai dengan berpikir dan lingkungannya.
(3) Dalam melaksanakan proses matematika (doing math) secara bersamaan, siswa diharapkan pula menghayati pilar ketiga, yaitu learning to be. Selanjutnya, dengan learning to be siswa diharapkan memahami, menghargai atau mempunyai apresiasi terhadap nilai-nilai dan keindahan akan produk dan proses matematika yang ditunjukkan melalui sikap yang ulet, bekerja keras, sabar, disiplin dan percaya diri.
(4) Pelaksanaan belajar matematika yang berorientasi pada learning to do dan learning to be, baik dalam bentuk belajar kelompok, atau klasikal merupakan latihan belajar dalam suasana learning to live together in peace and harmony. Penciptaaan suasana belajar yang demikian menurut pilar keempat ini memberi kesempatatan kepada siswa untuk dapat belajar dan bekerja sama, saling menghargai pendapat orang lain, menerima pendapat yang berbeda, belajar mengemukakan pendapat dan atau bersedia sharing ideas dengan orang lain dalam melaksanakan tugas-tugas matematika, khususnya tugas-tugas lain yang lebih luas. Dengan kata lain, suasana belajar matematika yang berorientasi pada pilar learning to live together in peace and harmony diharapkan bahwa siswa mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dalam matematika.






zainurie berkata,
Juni 18, 2007 @ 5:58 am
Pak…., bagaimana kabar UNAS nya?…….lulus semuakan…siswa-siswanya….
siiip pak apapun jenis pembelajaran yang kita gunakan yang penting bisa meningkatkan pemahaman murid-murid kita dengan matematika, bukan hanya sekedar bagusnya nilai semata….
mas bukan ‘apapun jenis pembelajaran yang digunakan…’ mestinya ” karena model pembelajaran yang digunakan sesuai/cocok dengan materi yang akan diajarkan dan sesuai dengan karakter siswa sehingga meningkatkan pemahaman…”
Alhamdulillah…semua lulus, tapi sedih…
Makasih atas komentarnya ya mas…
Wisnu Triatmojo berkata,
Juni 24, 2007 @ 6:48 am
pak, assalamu’alaikum. akhirnya dikunjungin orang ganteng juga. ngomong-ngomong bagus juga blognya. yaaa, lumayan lah. mater-materinya juga bagus. terima kasih ya pak.
Eh nak, yang ganteng itu bukan kamu…tapi saya guru mu…ha ha ha. Makasih anakku anda telah menggunakan teknologi hari ini…
Wisnu Triatmojo berkata,
Juni 24, 2007 @ 6:51 am
pak, buat kelas 3 materinya apaan aja?
Materi Kelas XII lumayan banyak, tetapi tidak berarti kamu takut dengan banyaknya materi itu. Kata kuncinya kuasai medan raih prestasi atau genggam waktu raih prestasi…
Materi kelas XII IPA : Vektor, Matriks, dan banyak lagi…
wargabanten berkata,
Juni 28, 2007 @ 1:12 pm
Smoga pendaftaran dan penerimaan siswa baru tidak terjadi pUnGLi dan sogok-sana sini, dengan alasan biaya pembangunan A dan Z..
Sukses selalu Pak Guru…
lagi gak login… net lambat..
Amin…
Yang disogok, yang nyogok dan yang jadi perantara sama dosanya ya…
dian berkata,
Desember 27, 2007 @ 9:13 am
ass,
pak ini saya dian, mahasiswa UIN bimbingan skripsi bapak. bapak kemana saja ngak ke kampus-kampus?
Tanggal 2 januari 2008 insya Allah saya datang ke kampus, saudara silahkan temui saya jam 11,00 s.d 12.00 WIB saya tunggu ya…
dedy salman berkata,
Januari 21, 2008 @ 2:19 pm
assalamu’alaikum wr.wb…
saya mhs unmul FKIP Unmul semester VII, minta bimbingan tentang pendekatan penagjaran matematika dan metode pembeajatan matematika. karena materinya terlalu luas, jadi saya minta yang di fokuskan kepada pendidikan matematika
Ariyani Mulyo berkata,
Mei 21, 2008 @ 7:55 am
Ass, pak saya mahasiswa unp, ingin mencari informasi tentang matematika realistik (RME). Mohon bantuannya pak, makasih sebelumnya.Was
reza berkata,
Juni 12, 2008 @ 2:54 am
maaf sebelumnya pak,
sy mhsswa semester 6
skrang sedang bingung bagaimana mnyusun tugas akhir sya
belum ada gambaran tentang skripsi di benak saya
kata dosen saya, bukan cari judul tapi cari masalah
tapi masalahnya saya tidak tau “masalah”nya apa pak
menurut bapak, apa yang mesti saya lakukan pertama2 untuk mndapatkan gambaran skripsi tsb
atas jawabnya, saya sampaikan trima kasih pak
dosen sdr benar mesti “mencari” masalah, biasanya permasalahan itu muncul ketika kita melakukan atau melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Pengalaman yang kita peroleh biasanya membuat kita menjadi terinspirasi, misalnya mengapa siswa tidak memahami materi A? apakah ada yang salah dengan cara penyampaiannya? atau mungkin materi A tadi tidak cocok dengan metode P, bagaimana kalau menggunakan metode Q? Apakah dengan metode Q kemampuan siswa menjadi lebih baik? Nah dari praduga sementara itulah kita dapat masalah yang selanjutnya akan menjadi hipotesis…akhirnya dapat deh judul penelitian.
Masalah itu dapat juga diperoleh dari hasil obrolan kita dengan guru yang sudah mengajar, misalnya dengan dengan mengajukan pertanyaan kepada guru materi apa yang dirasakan siswa sulit? mengapa demikian? apakah sudah pernah dicoba menggunakan metode P? dst dst…
Selamat mencoba…
Noor Zainab berkata,
September 20, 2008 @ 2:29 am
Bapak, sy mhs smt 7 jur pend mtk
Sekarang lg menggarap skripsi
judul baru diterima jadi mau seminar
“Implementasi Model Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) Dalam Pembelajaran Konsep Persamaan Garis Singgung Lingkaran Siswa Kelas XI IPA MAN 2 Marabahan”
Menurut bapak gimana judul saya
Rencananya penelitian nanti, saya bikin RPP utk 3xpertemuan dg menggunakan model kooperatif tipe STAD.
Saya menggunakan tes, angket, lembar observasi, dan wawancara sebagai instrumen. Gimana cara mengukur validitas dan reliabilitas masing2 instrumen itu pak? Terutama yang saya bingung untuk angket, lembar observasi dan wawancara.Saya mau minta saran bapak untuk pelaksanaan penelitian saya nanti.
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih
Kalo saya juga bingung gimana…huekekekekek…
pada dasarnya angket bisa diukur validitas dan reliabilitasnya , tetapi bila lembar observasi dan wawancara menurut saya cukup saja di validasi isi oleh para ahli…(siapa tuh yg termasuk para ahli???) ya dosen pembimbing…
selebihnya agar diperjelas maksud saudara “saran bapak untuk pelaksanaan penelitian”
lava berkata,
November 5, 2008 @ 9:39 am
assalamualaikum.
saya mahasiswa semester 5.saya belum mempumyai bayangan untuk penulisan judul skripsi saya.mohon bapak memberikan tanggapan.terima kasih.
riana berkata,
November 13, 2008 @ 4:06 am
ass…maaf sebelumnya pak, saya mahasiswa semster 9 di UNTAD. sya bingung gmana caranya buat tugas akhir. saya bingung mana modl yang sesuai dengan materi n permasalahan yang ialami. bulan maret sy kasih masuk judul tentang menumbuh kembangkan kemampuan berfikir logis dan sikap positif terhadap matematika dengan materi sistm pers linear dua variabel melalui pendktan RME.karena z sbuk mengajar akhrnya tertinggal.skr materinya dah diajarkn.kira2 materi apa lg yang sesuai dengan model ini?
kalau misalkan ingin menerapkan pengunan LKS pada siswa, kira2 model yang sesuai apa?siswa STM t4 saya ngajar kurang berminat dengan matematika,mreka jg saya liat jenuh coz dalam sehari, mereka belajar matemtika 4 jam pelajaran
geulist133 berkata,
Desember 25, 2008 @ 6:03 am
Assalamualaikum, saya anak SMA kelas XII sih, saya termasuk menyukai matematika walaupun baru suka, kalau saya sebagai yang belajar sih merasakan banyak kesalahan konsep dari cara mempelajari matematika selama ini (itu juga setelah baca artofmathematics) hal yang menjadikan saya lemah bukan lagi soal logika, tapi soal matematika sederhana. kalo misalnya saya sih senang senang saja sama math, tapi kalau misalnya pondasi awalnya jelek, bangunan math yang saya miliki juga buruk. kalo saya sih seneng banget belajar matematika, cuma karena saya lemah jadi agak agak menghindarinya. bukannya gak suka, tapi gak bisa
afudz berkata,
Desember 30, 2008 @ 12:25 pm
pak,pusiiiiing……!!!
indra berkata,
Januari 5, 2009 @ 9:35 am
weh.hehehehehh
i'anatuth berkata,
Januari 16, 2009 @ 9:23 am
Aslamualaikm,ane mhsswi smstr 1,MTK,!!!PANAS DGN MUAL2,,,,,,HWEHEHE
imah berkata,
Juli 21, 2009 @ 9:19 am
Ass
Bapak mohon dibuatkan angket tentang penalaran siswa.
ini untuk peningkatan penalaran siswa dalam pembelajaran matematika.
Mohon bantuannya.
Besar harapan saya jika bapak bisa membantu saya
imah berkata,
Juli 21, 2009 @ 9:32 am
Ass
bapak mohon di kirim tentang angket penalaran siswa,
anket ini bertujuan untuk peningkatan penalaran siswa pada pembelajaran matematika.
besar harapan saya jika bapak bisa membantu.
saya tunggu balasan di email saya. trimakasih