“GERAKAN” PENDEKATAN KONTEKSTUAL (baca: CTL)DALAM MATEMATIKA SEBUAH KEMAJUAN ATAU JALAN DI TEMPAT ?

Oleh : Sudrajat

Kemanakah arah pembelajaran matematika di sekolah kita sekarang ini?

Isu sentral yang kerap kali mewarnai pembelajaran matematika adalah seputar rendahnya kualitas hasil belajar matematika. Penafsiran tentang kualitas ini ada yang melihatnya dari produk yang diperoleh suatu lulusan berupa kemampuan intelektual matematika dan ada pula yang menafsirkannya sebagai suatu kesalahan berantai yang tidak hanya melihat dari hasilnya saja, tetapi meliputi juga prosesnya.

Apabila diamati, kesalahan seputar rendahnya nilai mata pelajaran matematika dipengaruhi juga sikap masyarakat (khususnya orang tua) itu sendiri yang memandang secara sempit assessment pembelajaran matematika, yaitu jika rangking anaknya rendah, maka resahlah orang tua atau jika nilai raportnya rendah maka langsung menuding anaknya bodoh.

Isu lainnya yang juga tampak mengemuka adalah seputar kapasitas materi yang disampaikan, yaitu hingga saat ini belum banyak guru (secara perorangan) atau suatu sekolah manyampaikan materi/ soal-soal yang rutin maupun non rutin yang melatih siswa menjawab how? dan why? Atau tidak merangsang siswa berpikir kreatif, inovatif, dan alternative. Akibatnya, masih sedikit ditemukan guru maupun sekolah yang memperhatikan kaidah percepatan belajar siswa (learning acceleration), yaitu melayani pengayaan pembelajaran pada anak unggul dan berbakat (gifted and talented) dan memperhatikan perbaikan belajar (remedial) pada anak yang rendah (lower).

Selain itu, dari hasil penelitian akhir-akhir ini berkembang pula isu seputar rendahnya kompetensi matematika guru dan calon guru. Hal ini menjadi penting mengingat faktor keberhasilan belajar siswa dipengaruhi oleh strategi pembelajaran, sistem penilaian, interaksi di kelas, dan faktor guru. Itulah sekelumit problematika pembelajaran matematika di sekolah saat ini.

Upaya mengatasi berbagai isu pembelajaran matematika senantiasa dilakukan para pemerhati dan pengguna matematika. Pembaharuan dilakukan sebagai upaya keikutsertaan matematika dalam membentuk manusia berkualitas, yaitu tidak hanya membekali peserta didik dengan keterampilan menggunakan matematika, tetapi juga menumbuhkan kemampuan yang transferable untuk memiliki daya pikir kritis, dalam hal ini kemampuan yang berupa :

§ (untuk tingkat dasar) kemampuan dasar reading literacy, pengetahuan bilangan (numeracy), dan pemecahan masalah sederahana.

§ (untuk tingkat menengah) menerapkan matematika di berbagai bidang (contextual mathematics) dan kemampuan memecahkan masalah sehari-hari.

Upaya perbaikan juga dilakukan dengan lebih mempertimbangkan berbagai pandangan/filsafat pembelajaran yang mutakhir, seperti bergesernya pandangan belajar dari teacher centre ke student centre atau lebih memfokuskan pada pandangan perkembangan mental (development mental) yang mengutamakan proses dengan tidak mengesampingkan pandangan tingkah laku (behavioristik) yang mengutamakan produk.

Para penentu kebijakan juga turut andil menyumbangkan pikirannya tentang inovasi mathematics learning yang biasanya mempertimbangkan aspek politik pemerintah guna pemenangan persaingan teknologi/sosial antarnegara yang makin global. Singkatnya, optimalisasi pembaharuan pembelajaran matematika seperti diuraikan di atas dilakukan bebagai pihak dalam bentuk:

  • perbaikan strategi belajar mengajar oleh guru;
  • inovasi model belajar melalui studi dan riset kalangan perguruan tinggi; dan
  • penyempurnaan assessment proses/produk belajar matematika.

Pada akhirnya, semua pembaharuan tersebut akan bermuara pada penyempurnaan kurikulum oleh penentu kebijakan.

Usaha mensikapi berbagai problematika pembelajaran matematika berujung pada munculnya inovasi-inovasi dalam pembelajaran matematika. Inovasi pembelajaran matematika yang paling menonjol adalah rekonstruksi pemahaman matematika (mathematical meaning re-construction) melalui berbagai model pembelajaran dan sistem penilaian. Trend model pembelajaran yang dikembangkan saat ini secara formal mengikuti rekomendasi dari NCTM (National Council of Teacher of Mathematics) di Amerika. Misalnya dalam wujud NCTM Standard for Curriculum and Evaluation, NCTM Standard for Instruction, dan NCTM Standard for Assessment. Bentuk konstruksi pemahaman matematika yang saat ini dikembangkan bahkan cenderung menjadi sebuah “gerakan” studi model pembelajaran matematika di antaranya: constructivism, problem solving, problem posing, realistic mathematics education, open-ended approach, communication in mathematics, methacognitif model, cooperative learning, dan reinvention in mathematic.

Saat ini, inovasi pembelajaran matematika sebagai kata kunci untuk mengatasi problematika pembelajaran matematika di sekolah menengah diwujudkan dalam bentuk “gerakan pemerataan” teknik/model/ strategi/pendekatan pembelajaran matematika yang (katanya) mengakar pada kebutuhan dan kebiasaan realistik siswa di lingkungan hidupnya sehari-hari. “Barang baru” ini diberi nama pembelajaran matematika kontekstual (CTL- Contextual Teaching and Learning - diadopsi dari aslinya contextual mathematics).

Penulis yang kebetulan berkesempatan mendapatkan penjelasan langsung dari “main instructor” CTL dari Univeristas Negeri Surabaya beruntung memperoleh penjelasan aslinya tentang apa itu CTL. Mengapa beruntung? Lazimnya sebuah pelatihan di negeri ini, makin jauh rentang komunikator utama suatu informasi ke komunikan paling bawah, biasanya cenderung makin banyak informasi berbeda.

Dilihat dari konsepnya yang paling menonjol, yaitu tujuh prinsip CTL, penulis memandang ini adalah sebuah pendekatan yang brilian. Tentu saja demikian, karena tidak mungkin para pakar yang nota bene menjadi penentu kebijakan inovasi pembelajaran mengadopsi suatu model yang tidak bagus atau asal-asalan. Hebatnya lagi, bak lahirnya sebuah bayi jenius, maka kelahirannya begitu didengung-dengungkan, disebarluaskan sampai ke lapisan paling bawah, seolah-olah inilah bayi jenius yang dinanti-nantikan (padahal bukankah sudah pernah lahir bayi jenius sebelumnya, atau mungkin bersamaan lahir pula bayi jenius lain – hanya tidak seberuntung bayi ini). Sebegitu hebatnya model pembelajaran ini tidak jarang penulis dengar bahwa para penyampai model ini memandang rendah dan tidak berguna model pembelajaran lain yang pernah ada dan lahir terlebih dahulu. Seolah lupa bahwa mereka yang kini menyampaikan model baru itu terlahir dan dibesarkan oleh model yang lama. Hebatnya lagi, model ini disebarluaskan dengan di-back up oleh seperangakat kebijakan dan sejumlah proyek pengembangan pendidikan yang nota bene dilakukan perangkat pemerintah.

Masalahnya sekarang, tidaklah semudah membalikan tangan mengubah believe guru dan siswa yang terbiasa melakukan pembelajaran matematika cara sebelumnya untuk mau berubah ke cara yang baru ini. Apalagi bila setelah dirasakan dan dilaksanakan ternyata terlalu banyak membebani beban kerja guru yang tidak seimbang dengan penghargaan kerja yang mereka dapatkan. Karena itu, penulis memandang perlu menganalisis model ini menurut cara pandang pengalaman mengajar guru. Pertanyaannya adalah Benarkah ini sebuah keunggulan? Yang paling unggul dibandingkan lainnya?

Penulis akan menganalisisnya melalui tujuh prinsip CTL, yang menurut penulis inilah jantungnya CTL, yaitu konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, penilaian yang autentik.

Konstruktivisme- Dalam pandangan ini strategi yang diperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Karena itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara: (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa; (2) memberi kesempatan pada siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri; dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. Sungguh sempurna bagi sebuah model pembelajaran yang mengedepankan siswa sebagai pusat belajar. Hal ini tidak dipungkiri oleh penulis. Tetapi, akankah ini terus dipakai dan diterapkan manakala guru harus menyampaikan pokok bahasan yang one way direction dan mengharuskan menyelesaikan materi dalam waktu cepat. Misalnya, sebuah ilustrasi soal sebagai berikut. Bagaimanakah menanamkan sebuah pengertian yang konstruktif tentang -2 – (-4) ? Haruskah membiarkan siswa bekerja dan menemukan pengertiannya melalui pemodelan garis bilangan (sebagaimana lazimnya dikembangkan selama ini), ataukah pemodelan yang lainnya? Menurut penulis sungguh membebani bahkan membuat repot siswa dalam bekerja. Tidakkah cukup ditanamkan konsep kurang sebagai invers dari tambah untuk kasus itu? Sederhana, bukan? Jadi, konstruktivisme bukanlah satu-satunya.

Menemukan – Dalam pengertian menemukan sebagai inquiri, prinsip ini mempunyai seperangkat siklus, yaitu: observasi, bertanya, mengajukan, dugaan, mengumpulkan data, dan menyimpulkan. Sebagai sebuah model pembelajaran, prinsip inkuiri sangat tepat bagi penanaman konsep yang membutuhkan kerja eksplorasi dalam bentuk induktif seperti materi-materi IPA. Meski bisa pula diterapkan materi lain selain IPA seperti bahasa Indonesia bahkan matematika. Kesulitan muncul tatkala dihadapkan pada penyampaian konsep beraroma deduktif. Misalnya, menanamkan konsep-konsep geometri. Alhasil, prinsip ini tidaklah secara kaku dan wajib diterapkan kepada setiap pokok bahasan matematika.

Bertanya – Dalam bentuk formalnya sebagai salah satu kegiatan dalam mengawali, menguatkan, dan menyimpulkan sebuah konsep. Bentuknya bisa dilakukan guru langsung kepada siswa atau justru memancing siswa untuk bertanya.kepada guru, kepada siswa lain atau kepada orang lain secara khusus. Tak dapat dipungkiri lagi, kegiatan ini sangatlah menunjang setiap aktivitas belajar. Bukankah pengetahuan yang dimiliki seseorang biasanya berawal dari ”bertanya”. Dari sudut manapun penulis belum bisa memberikan counter terhadap ketidakbergunaan prinsip ini dalam setiap aktivitas belajar. Masalahnya, benarkah bila ini diklaim sebagai ciri aktivitas belajar yang hanya dimiliki oleh CTL? Tentu tidak sepakat bukan?

Masyarakat Belajar- Konsep masyarakat belajar (learning community) menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Masyarakat belajar bisa terjadi apabila ada komunikasi dua arah, yaitu guru terhadap siswa dan sebaliknya, siswa dengan siswa. Berbagai penelitian memang telah banyak menguji keberhasilan bentuk sharing pengetahuan ini, khususnya pembelajaran teman sebaya. Bahkan penulis berkesempatan melakukan penelitian berbau komunikasi seperti ini, yaitu secara spesifik berupa komunikasi dalam ranah kemampuan membaca matematika. Hasilnya, seperti yang telah diduga sebelumnya bahwa ketidakoptimalan hasil belajar yang diharapkan dari pemberian perlakuan suatu teknik atau strategi yang baru berakar pada permasalahan yang klasik dan senantiasa menghantui pembelajaran matematika selama ini, yaitu pada masalah kurangnya penguasaan konsep dasar. Singkatnya, komunikasi dalam masyarakat belajar matematika dapat optimal bila komunikan dan komunikator memiliki penguasaan konsep dasar.

Pemodelan – Tampaknya, prinsip inilah yang menjadi primadona CTL dibandingkan dengan beberapa model pembelajaran lainnya. Pemodelan menurut versi CTL, guru bukan satu-satunya model, melainkan harus memfasiliitasi suatu model tentang “bagaimana cara belajar” baik dilakukan oleh siswa maupun oleh guru sendiri. Memang, setelah dipraktekan penulis, prinsip inilah yang paling sukar. Kesulitan yang sering muncul adalah merancang sebuah modeling tentang suatu konsep. Apalagi bila tuntutannya sempit, yaitu pemodelan yang terkait dengan konteks lingkungan siswa, bukan terkait dengan konteks apa yang sudah tertanam dalam diri siswa. Sebuah contoh klasik di kalangan para pengembang CTL untukl tingkat SLTP di antaranya kesulitan membuat pemodelan untuk konsep logaritma. Jadi, kesimpulannya, sungguh naïf bila dengan serta merta para pengembang CTL mengharuskan (mendoktrin) para guru untuk selalu menerapkan CTL sebagai satu-satunya model pembelajaran yang paling kapabel. Tidakah bahkan menjadi beban yang lain bagi para guru?

Refleksi – Refleksi merupakan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari dan dilakukan setiap peserta belajar. Guru mengkoreksi dirinya, siswa dikoreksi oleh gurunya. Nilai hakiki dari prinsip ini adalah semangat introspeksi untuk perbaikan pada kegiatan pembelajaran berikutnya. Sepintas, inilah satu-satunya model belajar yang mengembangkan kegiatan berbau introspeksi. Padahal, jika kita mau jujur dengan pembelajaran model lain pun yang ada, semuanya memuat prinsip ini. Masalahnya, diformalkan atau tidak diformalkan bahwa refleksi sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran.

Penilaian autentik - Penilain jenis ini memandang bahwa kemajuan belajar diniliai dari proses, bukan melulu hasil, dan dengan berbagai cara. Tes hanyalah salah satunya. Itulah hakekat penilaian autentik. Memang, selama ini forma tes matematika cenderung menekankan pada pengujian produk bukan proses. Hal ini terjadi karena sistem dan aturan yang dikembangkan menuntut untuk melakukan tes hanya produk saja. Tetapi, apakah benar-benar efektif bahwa tes autentik sebagai perangkat tes yang dapat dikembangkan dalam matematika. Ini perlu kajian mendalam. Terlalu dini jika pembuat kebijakan mengharuskan guru menyusun format tes autentik untuk para siswanya tanpa didampingi oleh suatu ilustrasi (contoh) atau apa saja namanya tentang tes autentik. Perlu mendapat pertimbangan para pengembang CTL bahwa ada penelitian tentang portfolio sebagai salah satu bentuk tes autentik yang menyimpulkan bentuk tes ini tidak efektif dalam matematika di Indonesia.

Dari beberapa counter yang dilakukan penulis seperti di atas, penulis beranggapan bahwa CTL matematika bukanlah satu-satunya jalan keluar yang harus segera disebarluaskan untuk diterapkan seutuhnya oleh setiap sekolah. Justru penulis melihat satu hal mendasar yang senantiasa muncul dan bahkan selalu mewarnai ketidakberesan hasil pembelajaran matematika, yaitu tentang lemahnya penguasaan konsep dasar matematika yang dimiliki siswa maupun guru. Asumsinya, mau bagaimanapun model belajarnya, siapapun yang menyampaikannya, dan di tempat bagaimanapun berlangsungnya pembelajaran, jika dalam diri setiap peserta belajar telah tertanam penguasaan konsep dasar yang memadai, maka target ketuntasan hasil belajar dapat diraih.

Jika demikian adanya, apakah tidak berlebihan dengan “gerakan” penggunaan CTL sebagai satu-satunya model yang harus diterapkan setiap sekolah di negeri ini. Tidakkah lebih bijaksana bila model ini dipandang sebagai satu alternatif pembelajaran yang bisa dipakai para guru di sekolah, sehingga segala kebaikan yang dimiliki model ini tidak segera luntur karena ternodai oleh misi proyek semata. Kalau begitu, apakah “gerakan” pendekatan kontekstual matematika merupakan suatu kemajuan ataukah jalan di tempat?

24 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    rivafauziah berkata,

    …….pembelajaran matematika berujung pada munculnya inovasi-inovasi dalam pembelajaran matematika. Inovasi pembelajaran matematika yang paling menonjol adalah rekonstruksi pemahaman matematika (mathematical meaning re-construction) melalui berbagai model pembelajaran dan sistem penilaian.

    ———–> yang pada akhirnya mereka hanya pintar matematika proses pembagian (:) dan Prosentase (%) belaka, karena mungkin itu yang paling penting.
    * Pembagian Uang Pelicin dan Uang Sogok
    * Prosentase yang di dapat dari sebuah proyek…

    Berarti Proses Pembelajaran matematika selama bertahun2 di dapat di bangku sekolah hanya pembagian dan prosentase belaka….

    Ya betul itu, kalau hasil pemikiran orang yang sangat sempit dan belum mengenal matematika atau mungkin tidak pernah belajar matematika…juga tanpa mencari makna apa dan bagaimana dari sebuah pembelajaran…merasakah anda…???

  2. 2

    mathematicse berkata,

    Artikel yang menarik. Penulisnya sangat kritis terhadap model/pendekatan baru dalam pembelajaran matematika.

    Karakteristik dari CTL dianalisis oleh sang penulis, namun kecenderungannya analisis yang negatif. Sedangkan analisis positive-nya saya pikir kurang. (Analisis terhadap sesuatu baiknya seimbang, baik buruknya perlu diungkapkan).

    Saya pikir, penulis ini terimbas oleh pemikiran salah seorang guru besar pendidikan matematika UPI. (Saya cuma menebak saja), Hmmmh menarik….

    Kepada penulis saya sangat berterimakasih sekali, sangat mengapresiasi tulisannya. Analisisnya bagus… memang negeri ini perlu orang-orang yang peduli pada pendidikan (matematika khususnya). Janganlah sampai menerima begitu saja pembaharuan yang belum jelas, belum tentu baik, belum tentu cocok dengan keadan di Indonesia. (benar, perlu pengkajian mendalam sebelum diterapkan serta merta begitu saja. Jangan sampai pendekatan baru ini hanya digembor-gemborkan hanya karena proyek sesaat).

    Alangkah baiknya juga guru-guru di sekolah yang sudah menerima penataran tentang beragam pendekatan baru itu juga tidak serta merta menerapkannya. Tetapi perlu selektif, pilih yang cocok, pilih yang baik.

    Tetapi alangkah naif juga bila guru-guru yang sudah banyak menerima training, penataran tentang pendekatan-pendekatan baru tetapi setelah kembali ke sekolah tidak ada bekasnya (kembali seperti semula). Biasanya sih guru-guru semacam ini hanya menganggap kegiatan penataran, training, dsbnya itu hanya refreshing, hanya hiburan melepas kepenatan, kebosanan, dan rutinitas di sekolah. Amat disayangkan. Sia-sia bila begini keadaannya.

    Kepada pemilik blog, yang sudah banyak makan asam garam di dunia ajar-mengajar matematika/pendidikan matematika, alangkah baiknya, bila berbagi pengalaman-pengalamannya (saya yakin banyak orang, seperti saya yang masih baru kemarin sore ini, bisa mengambil pelajaran, bisa belajar, dan bisa berguru pada bapak (sang pemilik blog)).

    Atas perhatian dan tanggapannya, saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya. Mohon maaf bila ada perkataan yang kurang berkenan.

    Salam hangat

    Al Jupri (mathematicse)

    terimakasih atas komentarnya…kalau saya dibilang banyak makan asam garam nampaknya tidak begitu karena saya gak kuat makan asam sebab perut saya gak kuat karena asam…hik hik hik

  3. 3

    kangguru berkata,

    f(matematika)=\int_{pola pikir}^{kreativitas} e^{-kesabaran\:ketekunan^2}

    eh…ada Kangguru…

  4. 4

    fadjarp3g berkata,

    Ass. wr. wb.
    Tulisan ttg CTL ini sangat bagus.
    Cuma ketika saya melihat materi matematika SMA tentang barisan dan deret, saya menjadi kecewa berat karena pembahasannya langsung dimulai dengan definisi. Mengapa pembahasannya tidak dimulai dengan contoh konkret barisan seperti 2, 5, 8, 11, 14, …. yang lebih mudah ditangkap siswa?
    Untuk sementara, saya masih menganggap tulisan itu masih pada tataran wacana dan belum ada contoh konkret pembelajarannya. Maaf kalau saya salah. Kalau ada waktu mohon komentar saya ini ditanggapi di blog fadjar.wordpress.com
    Terima kasih.
    Wass. wr. wb

  5. 5

    rbaryans berkata,

    Makasih atas komentarnya…
    Itu materi sekedar penambah wawasan pengetahuan bagi siswa SMA yang sebenarnya saya buat untuk mahasiswa jur pend matematika UIN dalam mengingat kembali materi SMA dalam sebuah perkuliahan…
    Tak perlu risau, pembelajaran yang kami laksanakan sungguh jauh dari kekhawatiran saudara…
    Tentunya bahan pembelajaran yang mencerminkan proses konkrit pembelajaran tidaklah secara gamblang saya muat di blog ini, mengingat pembelajaran tersebut mempunyai hak cipta tersendiri…
    hatur nuhun…

  6. 6

    supriadi berkata,

    CTL….makasih saya ucapkan kepada penulis…artikel ini dapat membantu saya sebagai bahan untuk belajar. walaupun belum sepenuhnya komplit hanya sebatas prinsip-prinsip metode pembelajarannya. klo` bisa di tambah dengan sedikit contoh membuat sekenario pembelajaran di kelas. karena pengetahuan saya minim tentang ctl jadi saya sedikit khawatir gimana pengalikasiannya di kelas. karena saya masih kuliah jadi jarang sekali ngajar di langsung di kelas. makasih.

  7. 7

    okah berkata,

    Bacaan yang menarik, bagi saya yang mendapatkan kesulitan untuk membimbing siswa lulus dari mata pelajaran matematika belumlah cukup untuk sebuah solusi. Saat ini hanya latihan soal yang terus diberikan kepada siswa, bukan dengan metode CTL atau apapun. Apapun metodenya guru hanya berorientasi pada kelulusan bukan pemahaman konsep matematika yang benar. Semoga penulis memberikan pencerahan bagi saya bagaimana membuat “sukses” dalam ujian hanyalah sebagai akibat dari proses pembelajaran yang efektif bukan sekedar latihan soal yang membosankan.

    Bapak…janganlah risau…
    Ikuti jalan yang paling benar dan sesuai dengan Aqidah…
    Berikan pemahaman konsep matematika dengan benar kepada anak-anak kita
    Yakinkan dalam diri apa yang kita lakukan itu tidaklah sia-sia
    Semoga Alloh memberi kemudahan kepada kita…

  8. 8

    FadjarShadiq berkata,

    Terima kasih komentarnya. Kalau sempat buka juga blog fadjarp3g.wordpress.com

  9. 9

    fadjarp3g berkata,

    ASs. wr. wb. Slmat berpuasa pak.
    Web bapak sudah saya link. Biar lebih menyebar juga, tolong web saya di link-kan juga ya. Trm kasih.

    Selamat berpuasa juga pak…terimakasih atas kerjasamanya

  10. 10

    FadjarShadiq berkata,

    Pak, saya sudah ngopi beberapa artikel blog bapak. Kemungkinan besar saya akan mengutip beberapa artikel tersebut dengan mencantumkan sumbernya seperi yang biasa dilakukan. Terima kasih. Mudah-mudahan bermanfaat untuk masa depan kita bersama. Aimin

    Amin…, Silahkan kalau memang itu dapat bermanfaat bagi bapak…

  11. 11

    wahyu bobos berkata,

    sungguh terlalu jk kita tidak membaca artikel ini,karena menurut sy ini sangat bagus unt pengetahuan kita.mudah-mudahan akan ada artikel lain lagi yang berkaitan dengan matematika

  12. 12

    Desyandri, S.Pd berkata,

    Memang di dalam membelajarkan siswa kita sebagai guru/dosen harus melibatkan siswa dalam pembelajaran, siswa menemukan sendiri. Dengan kata lain ilmu yang mereka dapatkan akan teringat terus. Saya sebagai dosen PGSD UNP Padang sangat mendukung sistem CTL ini dan saya juga sedang membuat seminar/diskusi mengenai CTL ini khusus untuk sekolah rendah Kelas 1, 2, dan 3 Sekolah Dasar.

    Ya selamat untuk saudara, semoga apa yang diberikan oleh saudara adalah hasil karya yang terbaik untuk mereka yang membutuhkannya…. :D

  13. 13

    dodi saputra berkata,

    Artikel ini sangat menarik, pas saya baca artikel ini saya lagi mau turun penelitian dan sedang ngajukan judul yaitu penggabungan CTL ini dengan kooperatif, saya tertarik dengan CTL ini karena disini siswa diajak untuk lebih aktif.
    Jikalau kita lihat dimanapun sekarang ini sebagian besar siswa belajar itu tidak serius, dan harapan saya semoga dengan adanya CTL ini yang nota bene adalah kerja siswa dalam menyelesaikan masalah belajarnya yang dipandu oleh guru dengan kejadian-kejadian yang dialami siswa dalam kehidupan nyata.
    Satu lagi yang ingin disampaikan yaitu masalah pencapaian konsep, kalau anda sudah tahu konsep maka anda tidak perlu lagi belajar. permaslahannya gimana konsep itu bisa dikuasai ya mungkin dengan CTL konsep bisa dikuasai. good luck!

  14. 14

    Rindarto berkata,

    mohon contoh konkrit rpp pembelajaran matematika sma pak

    saudara bisa unduh di halaman matematika SMA pd blog ini

  15. 15

    SALLY berkata,

    bapak mohon di berikan contoh model pembelajaran matamatika kontekstual unuk memjelaskam materi logarima pada tinggkat sma kelas 1 semester 1,karena saya bingung bagai mana mengkongkritkan materi logaritma yang abstrak ke wujud real, sepamahaman saya model pembelajaran kontekstual menekankan materi di wujudkan pada konteks kehidupan sehari-hari siswa TRIMS (SALLY, MAHASISWA UIN SGD BDNG)

  16. 16

    nurwan berkata,

    terimakasih kepada penulis yang telah memuat aartikel ini karena kont5eks tentang CTL itu sendiri masih terlalu m,inim dan masih memnutuhkan telaah untuk penerapannya.

  17. 17

    pemikiranku berkata,

    MEMANG HARUS SESUAI KONTEKS KEHIDUPAN, KALO BELAJAR GAK ADA MANFAAT DISEKITAR KITA PERCUMA, TETAPI KALO MATEMATIKA MEMANG 50% GAK BISA LANGSUNG DIRASAKAN MANFAATNYA,, NANTI KALO DAH MASUK DUNIA KHUSUS MATEMATIKA KERJA BARU KERASA, MENURUT SAYA YAA CTL untuk yang bisa di CTL, jangan dipaksakan CTL semua,, the right method in the right manner (ok)

  18. 18

    ALit berkata,

    Selamat sore,
    nama saya Alit
    Saya tertarik dengan CTL dalam pembelajaran matematika tetapi saya mengalami kesulitan di dalam mengajarkan logaritma.
    Mohon bantuannya!~
    terima kasih

  19. 19

    sony berkata,

    mbooooh………!
    aku ora mudeng mksude

  20. 20

    koeman berkata,

    alhamdulillah,

  21. 21

    towel cake berkata,

    @ sony.
    Kok ga ngerti c?? hehe..

  22. 22

    Imelda berkata,

    Saya juga guru SD, kalo dengerin metode baru ya pengen tahu…saya juga udah dapet di tempat saya kuliah tapi kalo harus menerapkan metode itu terus2an yah waktunya keburu abis n materi gak abis…gimana tuh….

  23. 23

    rbaryans berkata,

    ibu imelda yg berbahagia…alhamdulillah ibu sdh mau mencoba untuk menerapkan suatu metode demi peningkatan kwalitas pembelajaran, itu point yg sangat berharga…tentunya bila ibu memiliki kesulitan dalam manegemen/pengelolaan waktu berarti ibu tinggal bagaimana mengevaluasi dari penerapan yg ibu sdh lakukan. memang tdklah mudah untuk menerapkan suatu metode baru karena kita mesti memiliki kejelian dan analisa yg akurat sehingga kita dapat mengetahui apa saja ciri khas dari metode itu dan bagaimana semestinya metode itu dilakukan dengan baik, sehingga apa yang menjadi tujuan dari sebuah metode dapat tercapai…
    semoga jawaban ini tdk menjadikan ibu lebih puas, karena ibu akan terus mencari jawaban lain dari jawaban yg saya berikan…
    terimakasih…

  24. 24

    zaenuri berkata,

    Rendahnya hasil belajar matematika di negeri ini memamng merupakan suatu masalah yang kompleks. Mulai dari rendahnya kompetensi guru matematika pada materi matematika yang diajarkan (rendahnya penguasaan konsep), rendahnya kemampuan mengembangkan inovasi pembelajaran, sampai pada kebijakan pemerintah pada institusi pendidikan (kurikulum dan sebagainya).
    Model pembelajaran konstruktivis ataupun pendekatan kontekstual yang banyak disuarakan, sampai saat ini hanya merupakan suatu teori yang ‘diagung-agungkan’ tetapi tidak aplikatif, karena banyak hal.


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda