Tantangan bagi guru di abad informasi
Abad 21 merupakan abad informasi dan komunikasi, yang ditandai dengan perkembangan pesat pada teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi informasi dan komunikasi berupa televisi, telepon, komputer, dan internet mengalami perkembangan yang luar biasa.
Lewat perkembangan teknologi komputer, internet, dan telepon, dunia pun seakan-akan berada dalam genggaman kita. Informasi yang ada dibelahan bumi lain, secepat kilat akan sampai dibelahan bumi lainnya lewat short message system (SMS) atau berita di internet. Tidak ada lagi informasi yang dapat disembunyikan dengan perkembangan pemantauan satelit yang bisa diakses lewat google earth dan google map.
Sekolah sebagai institusi pencetak generasi yang hidup dimasa mendatang harus mempunyai keperdulian terhadap perkembangan yang terjadi. Jika tidak, maka anak-anak yang kita didik akan tertinggal dengan perkembangan zaman. Karena perkembangan informasi dan komunikasi ini tidak mempunyai toleransi, pilihannya hanya dua, yaitu mampu beradaptasi dan mengadopsi atau tertinggal ke belakang.
Guru pada abad ini dan abad selanjutnya ditantang untuk melakukan akselerasi terhadap perkembangan informasi dan komunikasi. Pembelajaran di kelas dan pengelolaan kelas, pada abad ini harus disesuaikan dengan standar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, atau yang lebih dikenal dengan ICT (information comunication technology). Bagaimana mengelola kelas berbasis ICT yang akan menunjang daya adaptasi dan adopsi siswa terhadap kemajuan teknologi informasi dan komunikasi? Hal inilah yang akan dicoba diuraikan pada paparan di bawah ini.
Tantangan bagi guru di abad konstruktivisme
Diakui atau tidak diakui dalam dunia pendidikan paradigma yang dianut sekarang adalah konstruktivisme. Jika dahulu pengetahuan siswa bersumber dari guru, dan siswa dianggap sebagai gelas kosong yang siap diisi. Maka dengan paradigma konstruktivisme, siswa harus dianggap memiliki pengetahuan awal, dan tugas guru hanya mengkonstruksinya. Siswa pun diibaratkan tanaman yang sudah punya potensi untuk tumbuh dan berkembang, sedangkan guru hanya berfungsi sebagai penyiram yang membantu tanaman (siswa) tumbuh dan berkembang dengan baik. Akibatnya, peran guru berubah dari pengajar menjadi fasilitator dengan model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center), tidak lagi berpusat pada guru (teacher center). Proses belajar mengajar (PBM) bersifat memandirikan siswa dalam mengeksplorasi rasa keingintahuannya dan memecahkan masalah yang diberikan guru.
Konsekuensi dari bergulirnya paradigma ini memerlukan sumber belajar yang banyak. Tetapi sekolah dihadapkan pada kenyataan bahwa sumber belajar yang ada di perpustakaan sangat terbatas. Koleksi buku dan compact disk (CD) yang dimiliki sekolah pun acapkali sudah usang. Pembaharuan koleksi buku dan CD tentu memerlukan biaya yang sangat besar. ICT dapat dijadikan solusi bagi permasalahan ini.
Pada abad 20, perpustakaan adalah ruang pembelajaran utama, tetapi pada abad 21 ini sebuah revolusi pengetahuan terjadi. Dunia sudah semakin go digital. Semakin banyak buku yang telah dirubah ke dalam format digital book dan dapat dengan mudah diakses melalui situs seperti ibiblio, Google Scholar dan Questia. Perpustakaan instan pun ada di komputer. Bahkan ada salah satu proyek besar untuk pendigitalan buku ini disebut dengan nama Project Gutenberg yang memiliki misi utama mendigitalkan buku-buku yang sudah berstatus public domain. Hal ini pula yang ditiru oleh pemerintah Indonesia lewat Departemen Pendidikan dengan electronik book (e-book) untuk buku pedoman bagi siswa.
Pencarian informasi apa pun dapat dengan mudah dan cepat dicari dengan mesin pencari. Situs-situs mesin pencari seperti Google dan Yahoo! Sudah tersedia, bahkan sudah mulai meluncurkan versi mobile yang dapat diakses melalui telepon genggam. Dan telepon gengam bukan barang aneh bagi kebanyakan siswa di Indonesia. Bahkan untuk kasus SMAN 8 Bogor, 100% siswa harus memiliki telepon gengam, berkaitan dengan segala informasi kesiswaan dan kurikulum akan diberitahukan lewat telepon gengam.
Wikipledia adalah media informasi melimpah mengenai banyak hal. Wikipledia adalah ensiklopedia terbuka yang bersifat interaksi, selain siswa bisa mengakses informasi didalamnya, siswa pun dapat mengisikan hal-hal baru yang didapatkannya. Informasi pun akan disebar tidak hanya lingkup kelas, tetapi lingkup dunia.
ICT menyajikan teks nonsekuensial, nonlinear, dan multidimensional dengan percabangan tautan dan simpul secara interaktif. Tampilan tersebut akan membuat pengguna (user) lebih leluasa memilih, mensintesa, dan mengelaborasi pengetahuan yang ingin dipahaminya. Walhasil komputer dapat mengakomodasi siswa yang lamban menerima pelajaran, karena komputer tidak pernah bosan, sangat sabar dalam menjalankan instruksi, seperti yang diinginkan. Berbeda dengan guru, guru tak mungkin menjelaskan hal yang sama terus menerus pada siswa yang lambat. Selain itu siswa yang cepat pun dapat terus berlari tanpa perlu dihalangi dan distandarisasi sama dengan siswa lainnya. Inilah iklim afektif dari pemanfaatan ICT dalam pembelajaran. Tantangan dalam PBM seperti ini mengharuskan kita sadar untuk mengelola kelas yang berbasis ICT.
Pengelolaan Kelas Berbasis ICT
Pengelolaan kelas menitik tekankan pada aspek pengaturan (management) lingkungan, berbeda dengan pembelajaran (instruction) yang lebih menekankan aspek mengelola atau memproses materi pelajaran. Menurut Raka Joni, pengelolaan kelas adalah mengkondisikan kelas yang optimal bagi terjadinya proses belajar, yang meliputi pembinaan rapport, penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif. Pengaturan kelas mencakup pengaturan peserta didik dan fasilitas. ICT sendiri termasuk dalam pengaturan fasilitas untuk menunjang iklim konduksif bagi PBM di kelas. Baik iklim kognitif, afektif, dan skill.
Iklim kognitif yang dicapai dari kelas berbasis ICT adalah pemahaman terhadap materi karena siswa diberikan kesempatan bereksplorasi dengan ICT untuk memecahkan masalah baik secara sintesis maupun analisis. Iklim afektif yang dicapai dari kelas berbasis ICT adalah akomodasi siswa lambat dan cepat secara adil. Siswa yang lambat tidak akan menjadi bahan olok-olokan temannya, karena keterlambatannya, karena ICT memiliki kesabaran dalam menerima pengulangan-pengulangan sesuai kehendak pengguna (user). Begitu pun siswa cepat, tidak akan merasa kurang, karena ICT mampu melayani semua rasa ingin tahunya dengan kecepatan sesuai permintaan pengguna (user). Adapun iklim skill adalah yang paling dominan tercapai. Penggunaan ICT menciptakan skill menulis, berkomunikasi, dan mengakses pengetahuan dengan cepat, mudah, dan tepat.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh guru dalam pengelolaan kelas berbasis ICT, diantaranya adalah:
1. Penggunaan ICT sebaiknya dibagi dalam tiga katagori, yaitu one laptop for all students, one student one laptop, dan one laptop for four students.
2. Pengunaan ICT bersifat “one laptop for all student” digunakan pada saat guru memberikan konsep dasar yang harus dikuasai siswa secara menyeluruh. Adapun one student one laptop dan one laptop for four students digunakan untuk tahap pengembangan konsep, yang memerlukan aktifitas eksplorasi atau pemecahan masalah.
3. Penggunaan fasilitas hendaknya tidak terlalu sering bersifat individual, yaitu “one student one laptop“, tetapi sesekali harus diberikan fasilitas bersifat kerjasama, “one laptop for four student“. Ini semua sesuai dengan hakekat belajar aktif, menurut Vygotsky [1896-1934] (1962), salah satu pengagas konstruktivisme sosial, yang terkenal dengan teori “Zone of Proximal Development” (ZPD). “Proximal” dalam bahasa sederhana bermakna “next“. Vygotsky mengamati, ketika anak diberi tugas untuk dirinya sediri, mereka akan bekerja sebaik-baiknya ketika mereka bekerjasama. Selanjutnya Vygotsky menyatakan, setiap manusia mempunyai potensi, dan potensi tersebut dapat teraktualisasi dengan ketuntasan belajar, tetapi di antara potensi dan aktualisasi terdapat wilayah abu-abu. “Guru berkewajiban menjadikan wilayah abu-abu ini dapat teraktualisasi, caranya dengan belajar kelompok. Dalam bahasa yang lebih umum, terdapat tiga wilayah “cannot yet do”, “can do with help“, and “can do alone“. ZPD adalah wilayah “can do with help”, wilayah ini bukan wilayah yang permanen, kuncinya adalah menarik pembelajar menjadi dari zona tersebut, dengan cara bekerjasama.
Gambar 1. Zona of Proximal Depelovment dari Vygotsky
4. Guru harus menetapkan standar operasional prosedur (SOP) dalam penggunaan ICT dikelas. SOP ini mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.
5. Guru merancang kelas yang berbasis ICT yang bersifat dinamis sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Harus dibedakan tempat duduk siswa ketika kebutuhannya one laptop for all students, one student one laptop, dan one laptop for four students.
|
one laptop for all students |
|
one laptop for four students |
|
one laptop one student |
Gambar 2. Contoh Formasi Tempat Duduk Siswa Sesuai Kebutuhan









pengendara berkata,
September 19, 2008 @ 4:39 am
awan sundiawan berkata,
September 21, 2008 @ 6:15 am
Wah tulisannya menarik semangat untuk ber-ICT dalam PBM….
terimakasih pa awan, tetap semangat dong kan gaji guru tahun depan naik…heu…
kajiankomunikasi berkata,
Oktober 4, 2008 @ 2:20 pm
Memang guru harus mengubah paradigma lama dari sumber pembelajaran menjadi pengungkit potensi agar siswa tumbuh-kembang secara optimal. Guru tak boleh berhenti belajar dan berubah seiring perkembangan iltek… mungkin begitu ya… Terima kasih atas artikel yang mencerahkan ini. Salam dari saya yang juga guru…
Terimakasih juga atas kunjungannya…
salam dan tetap semangat menjalankan tugas sebagai guru…
Fachrol berkata,
Oktober 15, 2008 @ 10:05 am
Tulisan ini menarik, saya sbg siswa sgt mghargai tulisan tsb.
Yulee berkata,
Oktober 21, 2008 @ 3:42 pm
Assalamualaiukum.
halo pa Bambang apa kabar? msih inget ga ma saya? iseng ah komentarin tulisanya.
ICT dlam bidang pndidikan saat ini di luar ngeri emang udah ckup brkmbang psat trbukti dgn bnyk brmnculnya “e-schooling & e-learning”. tp di Indonesia sy rasa blum bnyk yg mnerapkn bhkan mngkin lbih bnyak yg blum mngtahuinya sama skali tntang ICT.
Bayangkn kntribusi sbuah ICT dlam dunia pndidikn cntoh orng yg cacat tdk prlu ltih mngayuh krsi rodanya hnya utk prgi jauh kskolah utk bljr tp hnya dgn sbuah tknologi infrmasi dia hnya tinggal duduk santai dirumah smbil mendownload e-book & tinggal mmpeljarinya. Itu hnya slah stu cntoh keunggulan ICT, namun disamping itu sy rasa ada sisi ngatif dr ICT, disaat sebuah teknologi modern brat brtemu dngan tradisi adat & budaya ketimuran yg kita miliki, dgn akses informasi yg tnpa btas dr sbuah internet “pornografi” adlah hal yg dgn sangat mdah dtemui. moral tentu yg dbicarakan.
oleh sbab itu seorang guru dihrapkan dpt jg membrikn pnddkn moral thd anak didiknya.
Sang Pejuang berkata,
Januari 8, 2009 @ 4:41 pm
Pak, ijin ngutip buat skripsi boleh pak?
silahkan asal dengan cara yang ma’ruf
sebutkan sumber dari kutipan saudara
David Ola Kia berkata,
Agustus 26, 2009 @ 5:22 pm
Teknologi ICT sekarang sangat memungkinkan melakukan pemblokiran informasi-informasi yang dikhawatirkan oleh para orangtua seperti pornografi. SDN 03 Menteng 03 sudah mempraktekannya dengan laptop yang child-friendly dan di desain memang untuk pembelajaran di sekolah yang disebut PC Classmates. Teknologi sekarang memungkinkan akses yang “tak terbatas” bisa “dibatasi”. Dengan pengaturan pengontrolan yang terpusat, bahkan anak yang sedang browsing kemana2 pun bisa dikontrol oleh guru. Jadi, yang seharusnya perlu dikhawatirkan sekarang adalah bukan pada waktu anak-anak mengkases di sekolah, tapi saat di luar sekolah dan tidak ada yang melakukan pengawasan. Saya lebih khawatir dan takut anak-anak sekarang dengan HP yang dibelikan orangtuanya, download dan tukar-menukar informasi maupun foto2 yang berbau pornografi sangat mudah sekali.
Berikut ini kelebihan ICT :
1. Memberikan akses informasi yang sama kepada siswa, khususnya yang ada di daerah dan pelosok. Sehingga siswa atau sekolah yang ada di daerah dapat mengejar ketertinggalan informasi bahan belajar mereka. Kasian siswa sekolah di daerah2….teman2nya di kota sudah melanglang buana sampai keujung dunia di dunia maya….anak daerah tahunya…ya sekitar daerah kecamatan di mana dia tinggal ). Pembelajaran berbasis ICT menjadi sebuah terobosan keterpurukan dan ketertinggalan.
2. ICT Learning bila proses belajar siswa disiapkan dengan baik ( proses diskusi, presentasi individu atau kelompok dari hasil mengakses informasi terkait dengan materi pelajaran yang dipelajari ) mendorong proses belajar yang aktif bagi siswa, mendorong keterampilan mereka berkomunikasi dalam diskusi ataupun dalam presentasi dan berbicara di depan umum, membangun percaya diri siswa…jaman dulu disuruh kedepan saja malu2…tipikal siswa Indonesia …)
3. Learning Partner : Partner belajar siswa dengan pendekatan sekarang tidak hanya guru saja, ICT memungkinkan siswa yang satu dengan yang lain menjadi sumber belajar mereka. Sebagai contoh…Guru menugaskan siswa untuk mencari sebanyak2nya informasi mengenai suatu negara….Siswa A dapat informasi A, Siswa B mendapat informasi B, Siswa C mendapat informasi C, pada saat setiap siswa atau kelompok siswa mempresentasikan hasil temuan mereka, maka semua siswa menjadi sumber belajar bagi temannya. Bahkan tidak itu saja, sang Gurupun belajar dari siswanya ( Sesuatu yang sebelumnya guru tidak ketahui,…sekarang dia menjadi tahu….dan sumber belajarnya adalah siswanya sendiri….keren oeey )
Sekian dan salam ( semoga berguna )
mra isa suwhenda, SPd.SD berkata,
Oktober 21, 2009 @ 5:37 am
terimakasih banyak saya sangat mendukung seluruh usaha bapak.
M. Muzakin H berkata,
Oktober 28, 2009 @ 1:08 am
bagus banget artikelnya. kebetulan skripsi saya juga sedikit membhas ttg internet, lmayan bt tambahan pengethuan….
Culinary Road » Blog Archive » Tugas tanggal 13 November 09 berkata,
November 13, 2009 @ 2:35 am
[...] anak-anak lain dan membuat Indonesia maju seperti negara-negara lainnya. Seperti dikutip dalam http://rbaryans.wordpress.com/2008/09/17…, dikatakan bahwa “ICT sendiri termasuk dalam pengaturan fasilitas untuk menunjang iklim konduksif [...]