Tag

, , , , , , ,

Proses Belajar Mengajar (PBM) senantiasa melibatkan tiga unsur yaitu pembelajar, pengajar, dan bahan ajar.  Interaksi yang terjadi pada ketiga unsur PBM adalah ketergantungan yang saling menguntungkan dalam rangka mengkontruksi pengetahuan.   Bahan ajar merupakan rujukan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan.  Pengajar merujuknya untuk mengorganisasi dan mempresentasi pelajaran.  Pembelajar merujuknya untuk memahami dan mengembangkan strategi belajar tertentu.  Interaksi antara ketiga unsur digambarkan dalam model trilogue PBM seperti Gambar 1.  Pada Gambar 1, tampak bahwa bahan ajar berfungsi sebagai bahan rujukan guru dan siswa.  Sebagai bahan rujukan guru dan siswa, maka bahan ajar haruslah memenuhi kriteria mudah diajarkan guru dan mudah dipahami siswa.

Bahan ajar atau teaching-material bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.  Sebuah bahan ajar paling tidak  mencakup :

a.   Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru)

b.   Kompetensi yang akan dicapai

c.   Content atau isi  materi pembelajaran

d.   Informasi pendukung

e.   Latihan-latihan

f.   Petunjuk kerja, dapat berupa Lembar Kerja (LK)

g.  Evaluasi

h.  Respon atau balikan terhadap hasil evaluasi

Bahan ajar tersebut dapat disajikan dalam bentuk:

  1. Bahan cetak (printed) seperti antara lain handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket.
  2. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam, dan compact disk audio.
  3. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti video compact disk, film. Bahan ajar multimedia
  4. interaktif (interactive teaching material)  seperti CAI (Computer Assisted Instruction), compact disk (CD) multimedia pembelajaran interaktif, dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials).

Pada pengembangannya,  bahan ajar hendaklah memperhatikan prinsip-prinsip pembelajaran. Di antara prinsip pembelajaran tersebut adalah:

Mulai dari yang mudah untuk memahami yang sulit, dari yang kongkret untuk memahami yang abstrak.

Siswa akan lebih mudah memahami suatu konsep tertentu apabila penjelasan dimulai dari yang mudah atau sesuatu yang kongkret, sesuatu yang nyata ada di lingkungan mereka. Misalnya untuk menjelaskan konsep pasar, maka mulailah siswa diajak untuk berbicara tentang pasar yang terdapat di tempat mereka tinggal. Setelah itu, kita bisa membawa mereka untuk berbicara tentang berbagai jenis pasar lainnya.

Pengulangan akan memperkuat pemahaman

Dalam pembelajaran, pengulangan sangat diperlukan agar siswa lebih memahami suatu konsep. Dalam prinsip ini kita sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa 5 x 2 lebih baik daripada 2 x 5. Artinya, walaupun maksudnya sama, sesuatu informasi yang diulang-ulang, akan lebih berbekas pada ingatan siswa. Namun pengulangan dalam penulisan bahan belajar harus disajikan secara tepat dan bervariasi sehingga tidak membosankan.

Umpan balik positif akan memberikan penguatan terhadap pemahaman siswa

Seringkali kita menganggap enteng dengan memberikan respond yang sekedarnya atas hasil kerja siswa. Padahal respond yang diberikan oleh guru terhadap siswa akan menjadi penguatan pada diri siswa. Perkataan seorang guru seperti ’ya benar’ atau ‚’ya kamu pintar’ atau,’itu benar, namun akan lebih baik kalau begini…’ akan menimbulkan kepercayaan diri pada siswa bahwa ia telah menjawab atau mengerjakan sesuatu dengan benar. Sebaliknya, respond negatif akan mematahkan semangat siswa. Untuk itu, jangan lupa berikan umpan balik yang positif terhadap hasil kerja siswa.

Motivasi belajar yang tinggi merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan belajar

Seorang siswa yang memiliki motivasi belajar tinggi akan lebih berhasil dalam belajar. Untuk itu, maka salah satu tugas guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah memberikan dorongan (motivasi) agar siswa mau belajar. Banyak cara untuk memberikan motivasi, antara lain dengan memberikan pujian, memberikan harapan, menjelas tujuan dan manfaat, memberi contoh, ataupun menceritakan sesuatu yang membuat siswa senang belajar, dll.

Mencapai tujuan ibarat naik tangga, setahap demi setahap, akhirnya akan mencapai ketinggian tertentu.

Pembelajaran adalah suatu proses yang bertahap dan berkelanjutan. Untuk mencapai suatu standard kompetensi yang tinggi, perlu dibuatkan tujuan-tujuan antara. Ibarat anak tangga, semakin lebar anak tangga semakin sulit kita melangkah, namun juga anak tangga yang terlalu kecil terlampau mudah melewatinya. Untuk itu, maka guru perlu menyusun anak tangga tujuan pembelajaran secara pas, sesuai dengan karakteristik siswa. Dalam bahan ajar, anak tangga tersebut dirumuskan dalam bentuk indikator-indikator kompetensi.

Mengetahui hasil yang telah dicapai akan mendorong siswa untuk terus mencapai tujuan

Ibarat menempuh perjalanan jauh, untuk mencapai kota yang dituju, sepanjang perjalanan kita akan melewati kota-kota lain. Kita akan senang apabila pemandu perjalanan kita memberitahukan setiap kota yang dilewati, sehingga kita menjadi tahu sudah sampai di mana dan berapa jauh lagi kita akan berjalan. Demikian pula dalam proses pembelajaran, guru ibarat pemandu perjalanan. Pemandu perjalanan yang baik, akan memberitahukan kota tujuan akhir yang ingin dicapai, bagaimana cara mencapainya, kota-kota apa saja yang akan dilewati, dan memberitahukan pula sudah sampai di mana dan berapa jauh lagi perjalanan. Dengan demikian, semua peserta dapat mencapai kota tujuan dengan selamat. Dalam pembelajaran, setiap anak akan mencapai tujuan tersebut dengan kecepatannya sendiri, namun mereka semua akan sampai kepada tujuan meskipun dengan waktu yang berbeda-beda. Inilah sebagian dari prinsip belajar tuntas.

Fakta lunturnya nilai-nilai etika, moral, sosial, budaya, dan religius yang terjadi dikalangan siswa menjadikan para ahli berpikir mengitegrasikan nilai dalam pendidikan.   Selain dalam pembelajaran di kelas, integrasi nilai pun bisa dilakukan pada pembuatan bahan ajar.   Bahan ajar ini kelak akan menjadi rujukan siswa dan guru. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan nilai diperlukan untuk menyokong perkembangan hidup anak-anak, lahir dan batin, dari sifat kodratnya menuju kearah peradaban dalam sifat umumnya.  Pendidikan nilai menganjurkan anak-anak untuk hormat pada ibu bapak dan orang tua lainnya, menolong teman yang perlu ditolong, dan lain-lain. Menurut Nobira (2008) tujuan pendidikan nilai lebih diperkaya yaitu selain memperkaya mental anak didik dengan nilai, juga meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan berdasarkan nilai, meningkatkan keinginan dan tingkah laku yang memiliki nilai-nilai terutama nilai etika, moral, sosial, kemanusiaan, budaya, dan religius.  Hal yang perlu diperhatikan dalam mengintegrasikan nilai pada bahan ajar adalah inventarisasi nilai yang dapat dimunculkan dan ditumbuhkan pada diri siswa.

Nilai yang ingin dimunculkan pun di tiap tingkatan/kelas berbeda-beda, dan disesuaikan dengan kurikulum dan pekerkembangan kognitif siswa.  Contoh pendidikan nilai yang dapat dimunculkan di sekolah dasar adalah:

Kelas 1-2 SD

  1. Nilai sainstifik
    1. berani bertanya jika ada sesuatu yang tidak diketahui
    2. selalu menggunakan kelima inderanya untuk mengamati sesuatu
    3. berani mencoba dan tidak takut gagal
    4. Nilai Sosial dan humanisme
    5. Bersahabat dan saling tolong menolong dengan teman.
    6. Merasakan kebaikan bekerja dan bekerja untuk semua
    7. Nilai religius
    8. mempunyai hati yang menghargai kehidupan dan mensyukuri hidup.
    9. Ramah dengan lingkugan di sekitar, memperlakukan hewan dan tumbuhan dengan hati yang ramah dan baik.
    10. Menyentuh, merasakan keindahan dan mempunyai hati yang sehat.

Kelas 3 dan 4 SD

  1. Nilai sainstifik.
    1. Melakukan sendiri apa yang dapat dilakukan sendiri, berfikir sebelum bertindak, menjalani kehidupan dengan cara yang wajar.
    2. Mengerjakan secara ulet dan tekun sampai dengan selesai apa yang telah diputuskan untuk dilakukan.
    3. Melakukan hal yang dianggap benar dengan penuh keberanian.
    4. Mampu menentukan alat bantu sederhana yang tepat untuk menunjang pengamatannya

    2. Nilai sosial dan humanis

    1. Mengetahui kebaikan/manfaat bekerja, bekerja untuk semua.
    2. Saling mengerti, percaya dan tolong menolong di antara teman
    3. Penuh hormat dan berterima kasih atas bantuan orang lain
    4. Ramah kepada orang lain dan punya tenggang rasa.

    3. Nilai religius

      1. Merasakan pentingnya hidup, menyayangi mahluk hidup.
        1. Terharu/Kagum terhadap keindahan/keagungan dan keajaiban alam, menyayangi alam, tanaman dan hewan.
        2. Memiliki hati yang dapat terharu terhadap keindahan dan benda-benda istimewa.

[Kelas 5 dan 6]

  1. Nilai-nilai saintifik:
    1. mengevaluasi apa yang sudah dilakukannya
    2. mendirikan cita-cita/tujuan yang lebih tinggi, berusaha pantang menyerah dengan penuh keberanian dan harapan/optimisme.
      1. Memahami bahwa kebebasan itu penting, bertindak secara mandiri berdasarkan tanggung jawab.
      2. Jujur dan setia, hidup senang dengan hati yang ceria.
      3. Memahami betul bahwa kebenaran itu penting, berusaha mencari sesuatu yang baru, menggunakan akal/kecerdikan untuk membuat hidup lebih baik (sikap inquiri).
      4. Mengetahui/menyadari kekurangan dan kelebihan sendiri, memperbaiki kekurangan dan mengembangkan kelebihan diri.
      5. Nilai sosial dan humanisme
        1. Bergaul dengan ketulusan/keikhlasan dan sopan santun, dapat membedakan waktu dan tempat, situasi dan kondisi.
        2. Memiliki hati yang dapat memberikan tenggang rasa kepada siapapun, berlaku ramah berdiri di pihak orang lain/ memahami sudut pandang orang lain.
        3. Saling percaya, mempererat tali persahabatan, saling berbagi ilmu, bekerja sama saling tolong menolong tanpa membedakan laki2 atau perempuan.
          1. Rendah hati, lapang dada memahami pendapat yang berbeda dengan pendapat sendiri.

5.  Memiliki rasa syukur/berterima kasih bahwa kehidupan sehari-hari itu ditopang oleh saling bantu dan saling tolong menolong.

  1. Memmatuhi hukum dan aturan, berjiwa sosial, melaksanakan tugas dengan baik, menghargai hak2 pribadi dan orang lain.
  2. Tidak ada diskriminasi dan prasangka kepada siapapun, berusaha mendirikan kebenaran secara adil dan objektif.
  3. Berpartisipasi/bergaul dengan kelompok yang dekat, menyadari peranan diri sendiri, bekerja sama dan bertanggung jawab.
  4. Memahami arti berkerja, merasakan kebahagian dalam melayani masyarakat, melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan umum
  5. Nilai religius
    1. MemahMengetahui kebesaran alam, memelihara alam dan lingkungan.
    2. Memiliki hati yang terharu atas keindahan, memberikan rasa hormat atas kekuatan yang melebihi kekuatan manusia.

Berdasarkan hasil inventarisasi nilai, guru dapat memilih dan mengintegrasikannya pada mata pelajaran yang sesuai, kemudian menyusun bahan ajarnya.