Oleh: Yanti Herlanti, M.Pd

yanti.herlanti@gmail.com

Ini tulisan dibuat pada tanggal 26 Desember 2005….

Sekedar pengingat dalam menjalani hidup dan kehidupan…

Inilah tulisannya…

Heboh…..! Begitulah ketika Artika Sari Devi mewakili Indonsia dalam ajang Miss Universe.  Pro Kontra pun menguak ke permukaan.  Mantan putri Indonesia yang sekarang menjadi anggota dewan menanggapinya dengan kalem bahwa apa yang dilakukan oleh Artika adalah bagian dari hak azasi manusia (HAM) dan timbulnya pro dan kontra adalah bagian dari demokrasi.   Kasus Artika sebenarnya bukan hal aneh, sebelumnya pro kontra juga menguak ke permukaan ketika Inul “goyang ngebor” Daratista, dan film Buruan Cium Gue (BCG).  Tulisan ini mencoba menelaah bahwa berbagai pro kontra yang terjadi bukan sekedar masalah moral, kelayakan, dan kepatutan saja.  Tetapi ada sebuah pertarungan antara dua idelogis.

 Islam sebuah ideologi atau sekedar agama ritual?

Penentang Atika, termasuk penentang sebelumnya yaitu Goyang Ngebor, dan film BCG adalah kelompok islam tsiqoh, kalau mengambil bahasa Gertz adalah kelompok santri dan pada tulisan ini disebut sebagai kelompok islam ideologis.  Mengapa kelompok islam santri atau ideologis yang seringkali menjadi pihak kontra?  Ini semua karena islam sebuah agama yang unik, sehingga sering kali tanpa ragu islam pun terjun  dalam dunia politik.  Pemeo Nurcholis Madjid yang mencoba memandulkan islam politik dengan slogan “Islam Yes, Partai No” pun dianggap angin lalu oleh kalangan Islam Santri.  Malah kaum santri saat ini makin getol berpolitik.  Dalam islam bukan hal yang tabu jika pemuka islam sekaligus juga seorang negarawan.  Bahkan Muhammad SAW sendiri pun mencontohkannya.  Beliau adalah nabi yang mendakwahkan Islam, negarawan yang meminpin daulah Islam beribu kota di Madinah, bahkan predikat panglima perang pun di sandang oleh Muhammad SAW.  Kholifah sesudahnya seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Ali….Umar bin Abdul Azis senantiasa melekat tiga jabatan ulama, umaro, dan panglima perang.  Inilah yang menjadi keunikan islam, islam tidak hanya berbicara sholat, zakat, puasa, dan akhlak yang baik, tetapi islam juga mengupas politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan semua masalah kehidupan ini ada pemecahannya dalam islam.  Sehingga Al Maududi mengatakan islam adalah dien, yang dien disini tidak hanya dimaknai sempit sebagai agama tetapi lebih luas adalah sebagai aturan kehidupan atau the way of life.  An Nabhani mengistilahkan islam adalah MABDA (Ideologi).  Lebih lanjut An Nabhani mempreteli bahwa islam memang sebagai ideologi yang bebeda dengan mayoritas ideologi yang dianut sebagian besar negara setelah sosialisme komunisme jatuh.  Mayoritas ideologi yang dianut oleh berbagai negara adalah mengikuti ideologi negara yang saat ini menguasai haegomoni dunia dengan ideologi kapitalis sekularisnya.  Perbedaan paradigma dari kedua ideologi itu dapat dilihat dari tabel berikut:

Aspek

Islam sebagai ideologi Kapitalis sebagai ideologi
Keyakinan Meyakini Alloh sebagai pencipta alam semesta dan mengeluarkan aturan-aturan untuk mengatur alam semesta.  Aturan-aturan itu terdapat dalam Al Qur’an.  Adapun detail pelaksanaannya didapatkan dalam hadits-hadits dan ijma’ para sahabat. Jika pun tidak ada dalil yang jelas di tiga sumber itu, maka diperkenankan melakukan QIYAS (analogi) dengan syarat-syarat tertentu.  Aturan-aturan Alloh tersebut  menyeluruh (kaffah),  mengatur mulai dari masuk WC samapi dengan pengelolaan dan sistem negara.  Manusia akan mempertanggungjawabkan pelaksanaan aturan-aturan Alloh itu di hari penghisaban.  Ada malaikat yang memantau, ada surga untuk orang-orang yang melaksanakan aturan Alloh yang kaffah, dan ada neraka bagi orang yang enggan melaksanakan aturan Alloh.  Keyakinan inilah yang kemudian disebut dengan aqidah islam. Meyakini  Tuhan (Alloh) sebagai pencipta alam semesta.   Tetapi tidak meyakini bahwa Alloh mengeluarkan aturan-aturan untuk kehidupan.  Sehingga aturan-aturan kehidupan dibuat oleh manusia.  Karena walau bagaimana pun manusia butuh aturan agar bisa menjalankan kehidupan  ini dengan damai dan sejahtera.  Karena tidak mungkin semua manusia membuat aturan sendiri, maka aturan dibuat sekelompok orang yang dipilih secara demokarasi untuk membuat aturan-aturan tersebut.  Maka orang-orang yang digolongkan pejabat-pejabat negara inilah yang membuat peraturan-peraturan berdasarkan akal-akal manusia.  Adapun hari akhir mereka meyakini hanya menghisab ibadah (sholat, shaum, puasa, zakat, haji) dan akhlak.  Keyakinan inilah yang kemudian diistilahkan dengan  sekular.
Standar kebenaran Islam menjadikan hukum syara sebagai standar kebenaran.  Hukum syara bersumber dari al quran, hadits, ijma shahabat, dan qiyas.  Walaupun mayoritas masyarakat menyukai dan membenarkan suatu perbuatan, tetapi hukum syara membencinya. Maka hukumnya tetap horom tidak akan berubah halal walaupun masyarakat seantero jagat menghalalkan.  Sekali harom menurut syara maka sampai kiamat pun tetap harom. Pendapat umum masyarakat adalah sumber kebenaran.  Jika mayoritas masyarakat menyetujui, maka perbuatan tersebut adalah sah-sah saja dilakukan.  Sehingga timbul pemeo “Vox pooli Voi” suara masyarakat adalah suara tuhan.  Sehingga hukum perbuatan pun berubah-ubah tergantung presepsi masyarakat pada zaman itu.
Standar perbuatan Islam menjadikan halal harom sebagai  perbuatan.  Manfaat adalah buah menjalankan yang halal dan menjauhi yang harom.  Tidak boleh menjadikan manfaat sebagai legitimasi untuk menghalalkan dan mengharomkan suatu perbuatan atau materi. Tidak boleh juga mendahulukan manfaat kemudian mencari legitimasi dari hukum syara atau bahkan mengabaikan hukum syara. Manfaat berdasarkan pertimbangan akal manusia dijadikan standar  perbuatan.  Jika akan melakukan segala sesuatu, yang dipertimbangkan adalah manfaatnya, mengenai halal dan haromya adalah perkara yang diabaikan, yang terpenting adalah manfaat.
Standar kebahagiaan Kebahagiaan adalah ketika hidup sesuai dengan ridho Alloh.  Alloh meridhoi jika umat manusia menjalankan aturannya.  Maka prinsif kebagiaan bagi setiap muslim adalah teraihnya keridhoan Alloh. Kebahagiaan adalah tercapainya kebutuhan-kebutuhan materi dan aktualisasi diri.

Dari tabel diatas tampak bahwa islam adalah sebuah ideologi, yang sangat bertolak belakang dengan kapitalis. Pertarungan pemikiran antara dua ideologi yang bertolak belakang merupakan pertarungan yang tidak dapat dihindarkan.  Sebuah ideologis membutuhkan eksistensi, salah satunya adalah melalui penyebaran pemikiran.  Ketika dua ideologi ini diemban oleh masyarakat, maka pertarungan pun akan terjadi dan senantiasa muncul pro dan kontra.

 Kemenangan milik siapa?

Upaya Atika tampil dengan pakaian renang yang lebih sopan dibandingkan kontestan lainnya dianggap sebagai upaya jalan tengah antara pro dan kontra.  Tetapi bagi kelompok islam ideologis, upaya itu tidak memadamkan kekontraan mereka.  Tokoh dari Aisyah Muhammadiyah dan mantan anggota DPR ketika diundang oleh sebuah TV swasta untuk menyaksikan gladiresik miss universe di Bangkok, dan mengomentari Atika yang tampil lebih sopan, beliau mengatakan “sungguh ironis wanita dipamerkan begitu rupa dan menjadi sebuah komoditas”.  Solusi yang ditawarkan pihak pro dengan tampil lebih sopan, tetap ditolak oleh kelompok islam ideologis.  Karena walau bagaimana pun memamerkan aurat baik seujung rambut maupun seluruh aurat tetap namanya harom.  Sekali harom tetap harom.  Upaya beberapa kalangan untuk berpikir positif, termasuk Atika sendiri dalam sebuah infotaimen di televisi swasta 13 Juni 2005 dengan mengatakan, ”Kenapa yang dilakukan saya tidak dilihat dari positifnya dari benefitnya untuk bangsa ini yang mana saya turut mengharumkan bangsa ini di ajang internasional”,  adalah sebuah upaya menjadikan manfaat sebagai standar perbuatan.  Padahal jelas dari tabel di atas, bahwa kelompok ideologis memandang halal harom sebagai standar perbuatan, bukan manfaat.  Suatu perbuatan yang bermanfaat tetapi melanggar hukum syara (aturan Alloh), tetap akan ditolak dan tertolak.  Maka sebutan bagi upaya jalan tengah yang ditawarkan lebih tepat jika disebut dengan upaya kelompok kapitalis menghargai kelompok ideologis. Karena kalau jalan tengah kedua penganut ideologi ini haruslah berurungrembug mencari upaya kompromistis.  Tetapi jika pun dilakukan urung rembung, tidak akan keluar suatu jalan tengah karena dari paradigma berpikir kedua ideologi ini sudah berbeda.

Klarifikasi yang ditayangkan media massa dalam bentuk infotaimen ataupun gelar wacana, adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menggiring opini masyarakat.  Sebagian besar opini memang menggiring ke arah disetujuinya pengiriman putri Indonesia sebagai duta di miss universe. Tetapi kelompok islam ideologis pun gigih  menyebarkan opini melalui wacana dan seminar.  Pertarungan kedua ideologi ini akan terus berlangsung, karena ini adalah pertarungan haq dan bathil, siapakah pemenangnya? Kita bisa lihat dari opini siapa yang akan menjadi pendapat umum masyarakat.  Dalam penyebaran opini, media massa lebih berpihak pada ideologi kapitalis.  Ini tidak aneh, karena kebanyakan tayangan  televisi pun lebih memacu hidup dengan budaya kapitalis.  Kita bisa melihat remaja Indonesia yang punya budaya timur dan mayoritas beragama Islam dari sisi budaya tidak jauh dengan remaja Amerika yang punya budaya kapitalis dan terkadang atheis.

Kemenangan ideologi kapitalis bisa dibuktikan dengan kasus inul, kontroversi goyang ngebor menguak kepermukaan padam perlahan-lahan.  Gencarnya tanyangan Inul tiap minggunya, dan semerbaknya aneka goyang di telivisi, membuahkan opini ditengah-tengah masyarakat bahwa itu hal biasa.    Begitu pun dengan kasus Atika, pada tahun ini begitu banyak mengundang pro dan kontra, bagaimana dengan tahun berikutnya?  Jika pada tahun berikutnya putri Indonesia 2006 dapat melanggeng dengan restu dari berbagai pihak, maka lagi-lagi pertarungan ideologi ini dimenangkan oleh kapitalis.  Ironis memang, mereka yang menyatakan diri mereka muslim, tetapi berparadigma pemikiran kapitalis dan penjunjung kapitalis, disadari atau tidak mereka telah menjadi pahlawan kapitalis dengan berbagai kemenangannya.