Tag

, ,

Beberapa tahun lalu, Bank Dunia menganalisis hasil studi para pakarnya tentang perkembangan dan dokumen pendidikan di Indonesia. Studi ini menjadi syarat direkomendasikannya sebuah bantuan bagi pendidikan di Indonesia. Laporan tersebut terbit pada bulan September 1998 yang mereka beri judul Education in Indonesia : from Crisis to Recovery (Tilaar ).

Laporan itu difokuskan pada hambatan dan strategi yang dilakukan, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Hasil identifikasi Bank Dunia tentang penghambat potensial kemajuan pendidikan di Indonesia: (1) sistem organisasi yang kompleks di tingkat pendidikan dasar, (2) manajemen yang sentralistik di tingkat SLTP, (3) terpecah belah dan kakunya proses pembiayaan pada jenjang pendidikan dasar, (4) manajemen nirefektif pada jenjang sekolah.

Sementara itu, laporan hasil survey USAID sebagai Tim Konsultan Managing Basic Education, secara singkat dilaporkan sebagai berikut.

n Peran guru : Guru mendominasi kelas

n Perlakuan terhadap siswa : Siswa di kelas dipandang sebagai objek pengajaran secara sama

n Pertanyaan : Hampir 95% pertanyaan datangnya dari guru. Jenis pertanyaan umumnya berupa ingatan, tertutup, satu jawaban benar, dijawab dengan koor, jawaban ringkas saja, melulu low order thinking

n Latihan soal : Latihan soal diberikan kurang sistematis, jumlah dan tipe soal sedikit, kurang menantang berpikir kritis

n Interaksi : Interaksi belajar lebih banyak satu arah, yakni dari guru ke siswa

n Sumber belajar : Sumber belajar yang ada hanyalah guru dan buku (itu pun jarang)

n Alat belajar : Hampir tidak adal alat bantu belajar selain talk dan chalk

n Variasi kegiatan : Pembelajaran seringkali dilakukan mengikuti urutan buku teks halaman demi halaman termasuk soal-soalnya. Siswa datang, duduk mendengarkan guru bercerita matematika, bertanya kalau ada, berlatih mengerjakan soal, begitu setiap hari.

n Pengelolaan kelas : Pengelolaan kelas yang klasikal, sesekali individual hanya tempat duduknya saja.

n Variasi penilaian : Penilaian hanya sejenis, yaitu tes formal dalam bentuk ulangan harian atau ulangan umum.

Usaha mengatasi kelemahan institusional yang berupa birokrasi pengelolaan pendidikan dan peranan komponen pengelolaan sekolah (baca: kepala sekolah) direkomendasikan oleh Bank Dunia sebagai berikut.

§ Melakukan pemberdayaan lokal dalam bentuk desentralisasi pendidikan. Pemerintah pusat mengimplementasikan beberapa program SLTP ke tingkat Kantor Wilayah dan selanjutnya memberi tanggung jawab penuh kepada Kepala Daerah Tk. II

§ Menetapkan kembali tanggung jawab atas perencanaan jangka panjang pada tingkat pendidikan dasar, yaitu pengelolaan tingkat SLTP sama dengan tingkat SD, sehingga struktur institusi pendidikan dasar menjadi sederhana dan selaras.

§ Pembangunan kemampuan kelembagaan dalam bentuk rekrutmen staf berkualitas sebagai tenaga kontrol kualitas, pemonitor dan evaluasi program, seperti pemberdayaan sumber daya kepengawasan pendidikan.

§ Memberikan otonomi manajemen sekolah yang lebih besar dan bertanggung jawab, baik dalam bentuk kurikulum maupun administrasi sekolah.

§ Sistem pendanaan yang merata, efektif, dan efisien dalam bentuk: matching grant (berdasarkan sumbangan orang tua melalui lembaga POMG), performance-based grant dan unrestricted grant (ke tingkat kab/kota menurut jumlah siswa)