Tag

, ,

Pada hari selasa, saya menjadi penguji mahasiswa yang sedang praktik pengalaman lapangan.  Secara tak sengaja, lewat di sebuah kelas yang sedang belajar matematika.  Terdengar lantangnya sang guru mengatakan, ”2x lebih kecil dari 4”.  Naluri matematikaku bergairah ketika mendengar suara tersebut.  Diam-diam aku pun melihat dari balik jendela, ”….oh rupanya sang guru sedang mengajar pertidaksamaan linear”. Di papan tulis tertulis 2x < 4.  Sang guru membaca tanda < pada pertidaksamaan tersebut dengan lebih kecil dari. Otakku berputar-putar…dari matematika kita akan belajar berpikir logis, sistematis dan kritis.  Bagaimana mungkin kemampuan itu muncul, jika cara guru membaca  < saja tidak logis? Bayangkan oleh anda, jika  2x < 4 dibaca 2x lebih kecil dari 4, berarti ada ukuran yang lebih besar?  Jika saya ganti 2x < 4, apakah 2x masih lebih kecil dari 4? Pertanyaan tersebut saya berikan pada anak saya yang masih 5 tahun,  ia menjawab 2x  itu lebih besar dari 4.  Jawaban yang sangat logis yang dilontarkan anak 5 tahun bukan? Pada kasus di atas tampak bahwa ada sesuatu yang mesti kita benahi bersama dalam cara membaca tanda matematika.  Matematika mempunyai aturan tersendiri dalam membaca.  Aturan ini dimaksudkan agar tujuan dari belajar matematika yaitu berpikir logis, kritis, dan sistematis, tercapai.  Jika kita kembali pada kasus di atas, bila kita mengatakan ‘anu lebih besar dari inu’ mestinya berkaitan erat dengan suatu ukuran dengan kata lain anu teh ukurannya lebih besar dari inu.  Oleh karena itu dalam matematika  <  BUKAN dibaca lebih kecil dari, tetapi harusnya dibaca kurang dari.  Maka bila kita mengatakan ‘anu lebih dari inu’, ini berkaitan dengan sebuah nilai yang terkandung didalam objek yang sedang dibicarakan, yaitu nilai anu melebihi dari nilai inu. Jadi, apabila kita dihadapkan dengan 2x < 4, nampaknya akan lebih logis bila kita baca ‘2x kurang dari 4’ bukan 2x lebih kecil dari 4’.   Boleh jadi kasus ini bukanlah kasus istimewa, karena kesalahan membaca itu sudah menjadi kebiasaan.  Saya masih ingat ketika kelas 1 SD, guru saya menjelaskan < dibaca kecil, karena jika diletakkan garis tegak dibelakang tanda tersebut, jadi K.  K artinya kecil, jadi dibacanya lebih kecil.  Sebaliknya >, jika diletakkan garis  tegak dibelakangnya akan menjadi sama dengan huruf b. B artinya besar, jadi dibaca lebih besar.  Mudah untuk diingat, sampai setua ini pun masing terngiang-ngiang.   Parahnya lagi, kita tidak terbiasa dan tidak dibiasanya untuk berpikir kritis, jadi apa yang diberikan guru ditelan begitu saja.  Oleh karena itu mulai dari sekarang, guru harus kritis, karena untuk membibitkan siswa yang kritis, harus dimulai dari guru yang kritis. Jadi dari sekarang kita lakukan 3M: Matematika yang logis, Matematika yang kritis, dan Matematika yang sistematis.