Lama sudah rasanya saya tidak mengisi ruang ini dengan sedikit coretan, yah lumayanlah daripada ngomongin orang yang jelas dosanya kan lebih baik corat-coret di media ini…dengan mencorat-coret disini siapa tahu menjadi suatu amal baik bagi yang nulis juga yang baca.

Bila kita ke sekolah, baik itu ditingkat SD, SMP ataupun SMA mesti orang membicarakan Iuran Bulanan (dulu SPP), Dana Sumbangan Pendidikan (DSP), Buku pelajaran, Rintisan Sekolah Kriteria Mandiri (RSKM), Kelas Akselerasi, Kelas Bilingual, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan banyak lagi istilah baru yang dulu mungkin belum pernah ada sewaktu jaman saya belajar di bangku sekolah menengah.

Inti pembicaraan para orangtua siswa dan pengelola sekolah sebenarnya berkisar pada besar uang yang mesti disiapkan. Diawal tahun pelajaran banyak orang mempermasalahkan besar DSP, jangankan orangtua siswa anggota dewan perwakilan rakyat (DPRD) saja ikut angkat bicara. DSP Belum usai dibayar, datang masalah baru… Anak-anak mereka mesti memiliki buku pelajaran, karena tanpa buku kata guru siswa akan sulit belajar. Akhirnya sekolah rame-rame bekerja sama dengan penerbit jual buku ke siswa. Inipun menuai protes dari orangtua, karena biaya yang dikeluarkan cukup besar dan memberatkan orangtua siswa. Mengapa demikian? Karena setiap tahun dan ganti guru mesti ganti buku juga. Orangtua protes lagi…

Dengan harapan masalah itu terselesaikan, pemerintah akhirnya mengambil langkah agar masalah harga buku bisa dijangkau oleh semua kalangan dengan mempersilahkan masyarakat luas agar menggunakan buku dengan cuma-cuma, dengan men-download di Buku Sekolah Elektronik. Tetapi apa yang terjadi mudah-mudahan tidak terjadi di daerah lain baru saja tadi pagi, terdengar di salah satu radio swasta bahwa orangtua mengeluh mahalnya biaya mendapatkan buku murah bahkan gratis tersebut.

Terdengar dari suara telepon yang berbicara dengan penyiar radio,”saya sudah download mas penyiar tetapi itu kan belum dicetak…biaya cetaknya saja sekian rupiah per lembarnya…jatuh harganya ya mahal-mahal juga…apalagi koneksi internetnya lamban…”

Benar juga sih, setelah saya lihat dan saya coba untuk men-download buku bahasa Indonesia tingkat SMA cukup lama bahan setelah lama nunggu tidak berhasil juga mendapatkan buku tersebut. Selain itu buku yang tersedia nampaknya belum lengkap.

Nampaknya masalah itu akan terus muncul dan bermunculan…belum lagi masalah RSKM, dan RSBI dengan biaya DSP yang sangat tinggi. Benar juga apa yang dikatakan oleh orangtua siswa bahwa singkatan dari RSBI menjadi Rintisan Sekolah Bertarif Internasional…bukan lagi Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional seperti yang diharapkan.

Akhirnya hanya Alloh yang tahu…