Tag

, , , ,

Guru adalah pahlawan pendidikan.  Siapapun mengakui bahwa guru adalah mata panah pendidikan suatu bangsa.  Oleh karena itu posisi guru senantiasa mendapat kedudukan mulia.

Dalam budaya sunda dan jawa, guru adalah kirata dari digugu (diikuti perintahnya) ditiru (sbg suri tauladan),  dalam budaya pesantren dan islam lebih hebat lagi, sampai keluar kode etik mengajar-belajar atau ta’lim mu’taalim yang memposisikan guru sangat tinggi dan barokah.  Dalam budaya Thailand, profesi guru sangat tinggi, hanya mereka yang berprofesi guru yang berhak diberi air suci dari sang ratu, ketika guru tsb meninggal.

Posisi mulia guru tidak serta merta berkorelasi positif dengan pendapatannya.  Banyak guru yang masih berpendapatan di bawah 100 rb per bulan, kalaupun gaji tertinggi bagi guru GTT  (guru tidak tetap) di madrasah/sekolah adalah 300-400 rb.

Nasib guru bergaji kecil terutama dialami oleh guru sekolah/madrasah negeri berstatus GTT atau semua guru non PNS yang mengajar di MI, MTs, atau SMP Terbuka,  yang nota bene sekolah tersebut berbasis community empowerment.  Di Indonesia sekolah berbasis comunity empowerment cukup banyak terutama sekolah berciri khas agama, baik islam, kristen, dan hindu. Di antara semua sekolah yang didirikan para pemuka agama itu, yang paling menghawatirkan perkembangannya adalah sekolah berciri khas agama islam atau yang di sebut MI (setingkat SD) dan MTS (setingkat SMP).  Hampir 80% MI/MTS berstatus swasta yang kondisinya cukup memprihatinkan.

MI dan MTS terkatagori sekolah formal sama statusnya dengan SD dan SMP atau SDK dan SMPK.  Lokasi MI dan MTS, hampir 80% jika diperkotaan berada di gang kumuh, dan jika di pedesaan ada di tengah sawah.  Kehadirannya ada karena tuntutan masyarakat sekitar terhadap sekolah murah yang berbasis akhlak.  Biasanya tuntutan orang tua yang menyekolahkan anaknya ke MI/MTS seperti ini tidak banyak, sangat sederhana, sesedehana kehidupan keseharian mereka,  yaitu anaknya bisa baca dan menjadi anak sholeh.

Karena biaya yang murah yang dibebankan MI/MTS pada orang tua, dan karena kemampuan orang tua siswa MI/MTS terbatas, menjadikan sekolah tidak cukup biaya untuk memberikan pelayanan yang layak dan gaji yang layak bagi para gurunya.  Walhasil kita bisa menyaksikan bangunan MI yang tak terawat dengan guru bergaji minim.  Untuk kaliber MI, jika guru mendapatkan gaji 300 rb sudah sangat besar.  Padahal 300 rb di zaman seperti ini, apakah bisakah mencukupi makan isteri dan anak-anaknya paling tidak 2.200 kkal perhari? Sementara mereka mengabdikan diri sebagai pendidik, bagaimana dengan anak mereka? bisakan dengan gaji 300.000 anak2 mereka tetap bisa sekolah, paling tidak sampai SMA/MA? Sebagai info saja SMA Negeri di Bogor rata-rata uang masuknya 2,5 – 3 jt dan SPP nya 100 – 150 rb.  Belum lagi buku dan biaya transfortasi ke sekolah.  Maka tak heran ada seorang guru berstatus GTT harus menerima kenyataan pahit anaknya di”DO“kan dari SMA Negeri, karena menunggak dan tidak mampu membayar tunggak ke sekolah tersebut.  Kalaupun mendapat keringanan/bebas biaya dari sekolah, mereka mesti menyediakan biaya untuk transfortasi, buku, dan pakaian. Ironis bukan?

Paparan di atas, menjadikan kita semua perlu perduli dan berbagi untuk….guru sang pahlawan pendidikan…

Bagaimana caranya? Sungguh, ketika di Dompet Dhuafa Republika (DDR) saya melatih guru dari Aceh sampai NTT, mendampingi sekolah di Aceh, Bogor, Jakarta, dan Jogja.  Keluhan guru tentang gaji sering terdengar, tapi saya bingung bagaimana bisa membantunya? Uang dari DDR tidak ada alokasi untuk membantu saku guru, semua diakadkan bagi pembangunan sekolah atau program kegiatan sekolah.  Keluhan mereka pun hanya mampir dan saya tampung.  Hal yang sama terjadi ketika saya di UIN, keluhan para guru tentang hidupnya hanya bisa saya tampung, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Di bulan Syaban dan Ramadhan ini “allohuma bariklana fi syaban wa ramadhan” seorang anak muda mengenalkan saya cara yang sungguh inovative untuk perduli dan berbagi.  Begini ceritanya:
Saya berperan mencari guru-guru yang layak disantuni dengan kriteria “kehidupan di bawah standar, tetapi ia merasa qonaah, punya pengabdian yang kuat sebagai guru, dan tidak kaget uang, dan memastikan bahwa yang saya beri adalah kail bukan ikan” mencari sosok guru seperti ini tidak mudah.  Proses observasi dan wawancara mendalam saya jalani.  Pada proses pertama ini, saya mendapatkan dua kandidat yang benar-benar layak disantuni.

Disinilah kehebatan inovasi yang digagas teman-teman kita alumni ITB yang digawangi Adithya.  Dua kandidat guru itu kemudian di”bursa”kan atau di“lelang” pada para donatur.  Kebutuhan kandidat guru pertama tahun pertama 7.32 jt dan kebutuhan kandidat guru kedua 12,97 jt.  Pada proses lelang itu para donatur menentukan item yang ingin disantun dan berapa persen santunannya dan mekanisme menyatuninya sebulan sekali/sesemester/setahun.  walhasil untuk kandidat guru pertama  dicover oleh empat donatur dan kandidat guru kedua dicover oleh tujuh donatur.  (mudah-mudahan Tuhan melipatgandaan rezeki para donatur dan Tuhan memudahkan urusan para donatur, sebagaimana mereka memudahkan urusan sesama makhluk Tuhan).  Selanjutnya diatur mekanisme sampainya uang pada para penerima santunan dan beberapa surat aqad donatur.   Hebat, sekali!

Mari kita bantu guru-guru yang memiliki kriteria “kehidupan di bawah standar, tetapi ia merasa qonaah, punya pengabdian yang kuat sebagai guru, dan tidak kaget uang, dan memastikan bahwa yang saya beri adalah kail bukan ikan”. Bila berminat hubungi kami…😛