Tag

, , , , , ,

Oleh: R. Bambang Aryan Soekisno
Tulisan ini disampaikan pada seminar Internasional di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Prestasi belajar matematika mengkhawatirkan bahkan mungkin lebih rendah bila dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Beberapa pelajar tidak menyukai matematika karena matematika penuh dengan hitungan dan miskin komunikasi. Beberapa pelajar juga berpikir bahwa matematika pelajaran yang membosankan, karena penuh rumus dan miskin nilai moral. Kebanyakan pelajar tidak merasa senang ketika belajar matematika. Bentang pangajen adalah sebuah model pembelajaran yang menyajikan pembelajaran matematika dengan menyenangkan dan juga membangun keterampilan komunikasi dan nilai moral. Ada lima langkah dalam model pembelajaran bentang pangajen, yaitu bina suasana, bina konsep, bina ingatan, beri bintang, dan beri hikmah. Keterampilan komunikasi akan terbangun pada langkah ke tiga sampai lima dari model pembelajaran bentang pangajen. Nilai moral siswa akan terbangun pada langkah ke empat dan lima dari model pembelajaran bentang pangajen.

Tantangan Bagi Guru Matematika

Pencapaian nilai hasil belajar siswa Indonesia untuk bidang studi matematika, cukup mengkhawatirkan. Hasil tes diagnostik yang dilakukan oleh Suryanto dan Somerset di 16 sekolah menengah beberapa provinsi di Indonesia menginformasikan bahwa hasil tes pada mata pelajaran matematika sangat rendah. Hasil dari TIMSS-Third International Mathematics and Science Study menunjukkan Indonesia pada mata pelajaran matematika berada di peringkat 34 dari 38 negara.

Beberapa ahli matematika seperti Ruseffendi (1984:15), mensinyalir kelemahan matematika pada siswa Indonesia, karena pelajaran matematika di sekolah ditakuti bahkan dibenci siswa. Menurut Sriyanto (2004) sikap negatif seperti ini muncul karena adanya persepsi bahwa pelajaran matematika yang sulit.

Banyak faktor yang menyebabkan matematika dianggap pelajaran sulit, diantaranya adalah karakterisitik materi matematika yang bersifat abstrak, logis, sistematis, dan penuh dengan lambang-lambang dan rumus yang membingungkan. Selain itu pengalaman belajar matematika bersama guru yang tidak menyenangkan atau guru yang membingungkan, turut membentuk sikap negatif siswa terhadap pelajaran matematika.

Nilai matematika siswa Indonesia yang selalu rendah, matematika pelajaran yang dibenci, dan karakteristik pelajaran matematika yang memusingkan siswa, menjadikan tantangan bagi setiap guru matematika. Tantangannya adalah “Bagaimana menyajikan pembelajaran matematika yang memudahkan siswa, menyenangkan, dan efektif bagi peningkatan hasil belajar matematika?” atau yang lebih lengkap lagi adalah “Bagaimana menyajikan pembelajaran matematika yang simple, fun, and effective sekaligus juga dapat mengembangkan skill dan afektif para siswa?”.

 

Bentang Pangajen: Pembelajaran Matematika yang bersifat Simple, Fun, dan Efective

Bentang pangajen adalah pembelajaran matematika yang bersifat simple, fun, and effective, karena pembelajaran ini melarutkan siswa dalam sebuah permainan yang mengasah koneksi, komunikasi dan kerjasama. Selain itu permainan tersebut juga mengandung nilai-nilai afektif dan moral, seperti kejujuran dalam menilai, keterbukaan dalam menerima kritikan, kebesaran hati dalam menerima kekurangan, menghargai pendapat orang lain, keberanian mengemukakan pendapat, dan kemampuan menilai.

Istilah “bentang pangajen” adalah istilah yang penulis berikan untuk sebuah model pembelajaran matematika, dengan lima langkah pembelajaran disingkat dengan 5B, yang terdiri dari Bina suasana, Bina konsep, Bina ingatan, Beri “bentang pangajen”, dan Beri hikmah. Model pembelajaran ini disebut “bentang pangajen” karena pada tahap ke empat, siswa diperkenankan menilai dan memberikan bintang pada karya siswa lainnya, dan berdasarkan pilihan siswa itu guru meminta penjelasan logis atas karya yang mendapat bintang paling banyak dan guru pun menarik hikmah dan memberikan penghargaan pada siswa atas bintang yang diberikan siswa dan atas alasan logis yang dikemukakan oleh siswa.

Kata “bentang pangajen” sendiri berasal dari bahasa sunda. Bentang berarti bintang, pangajen berarti diberikan, jadi bentang pangajen bermakna bintang yang diberikan pada siswa dan oleh siswa.

Adapun langkah pembelajaran pada model “bentang pangajen” adalah sebagai berikut:

1. Bina suasana

Bina suasana adalah tahapan pengkondisian siswa dan ruang belajar. Siswa akan dibagi menjadi kelompok-kelompok yang terdiri dari lima orang per kelompok. Pembagian kelompok dilakukan secara acak. Ruangan dikondisikan agar siswa mudah untuk bergerak. Siswa pun dikondisikan untuk siap menerima materi dan berkonsentrasi, dengan beberapa game atau ice breakers yang menguji konsentrasi.

2. Bina konsep

Bina konsep adalah tahapan guru memberikan informasi dan soal latihan tentang materi atau konsep. Pemberian materi atau konsep ini dilakukan dengan pembelajaran berbasis information comunication technology (ICT). ICT digunakan dalam bina konsep ini, karena beberapa kelebihannya, diantaranya adalah menarik, mampu memvisualisasikan secara tepat, dan waktu penyajikan lebih cepat.

3. Bina ingatan

Bina ingatan adalah tahap awal dari permainan. Pada tahap ini setiap kelompok siswa diminta menyelesaikan suatu masalah matematika dan memberikan alasan mengapa dan bagaimana mereka menjawab seperti yang mereka tuliskan dalam kertas karton, kemudian karton itu ditempel pada dinding kelas. Masing-masing kelompok berkeliling melihat, memberi komentar terhadap tulisan kelompok lain, menjelaskan apa yang ditulis oleh kelompok lain secara bergantian.

4. Beri bintang

Beri bintang adalah tahapan kedua dari permainan. Pada tahapan ini setiap siswa menilai karya kelompok lain berkenaan dengan konten, penyelesaian soal, dan artistik dengan membubuhkan bintang pada hasil karya tersebut.

5. Beri hikmah

Beri hikmah adalah tahap evaluasi yang diberikan oleh guru. Pada tahapan ini guru menyimpulkan kelompok mana yang paling banyak mendapat bintang. Dan menanyakan pada para siswa apa yang menyebabkan kelompok tersebut menerima banyak bintang. Kemudian kelompok yang mendapatkan bintang terbanyak dinobatkan sebagai “GRUP MOTEKAR”. Semua karya yang dibuat siswa akan menjadi pajangan di kelas (display), yang senantiasa dapat memberi motivasi dalam belajar dan mengingatkan kembali kepada siswa atas materi yang telah diberikan sebelumnya.

Sifat simple, fun, dan efective tergambar dari lima langkah 5B pada model pembelajaran bentang pangajen. Sifat simple tergambar pada langkah pembelajaran yang hanya memuat lima langkah yang sangat mudah untuk diterapkan pada pembelajaran apapun. Isi dari lima langkah ini sangat sederhana dan mudah dipahami dengan cepat oleh siapapun. Bina suasana adalah langkah persiapan, bina konsep adalah kegiatan inti guru dalam memberi materi, bina ingatan adalah kegiatan latihan siswa berupa pemecahan masalah yang dipecahkan secara berkelompok. Beri bintang adalah kegiatan pemberian penghargaan oleh dan bagi siswa. Beri hikmah adalah kegiatan evaluasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru pada hari itu. Pada lima langkah itu, kita bisa melihat bahwa kelima langkah itu dapat kita terapkan dalam satu kali pembelajaran (2×45 menit).

Sifat fun tergambar pada langkah pembelajaran pertama (bina suasana), game dan ice breakers untuk menguji konsentrasi siswa diberikan pada tahap ini. Sifat fun juga tergambar pada langkah keempat (beri bintang), siswa melakukan windows shopping untuk memberikan bintang pada lembar kerja yang telah diberikan siswa lain.

Sifat effective tergambar pada langkah pembelajaran yang kedua (bina konsep). Penggunaan ICT memberikan kemudahan pada siswa untuk mencerna materi dalam waktu singkat tanpa kehilangan proses tercapainya suatu konsep. Bahkan dengan ICT materi yang banyak dapat disajikan dengan singkat, tanpa kehilangan proses tercapainya konsep. ICT telah membantu mencapai keefektifan belajar ditunjang oleh beberap penelitian, seperti penelitian Yanti Herlanti (2005:72) menyebutkan bahwa penggunaan ICT telah mengurangi waktu guru dalam pemberian penjelasan (informing) sebanyak 68-77%.

 

Bentang Pangajen: Pembelajaran Matematika yang membangun skill komunikasi

Dari sisi kognitif dan skill, model pembelajaran “bentang pangajen” dengan langkah 5B, sejalan dengan pedoman penilaian kompetensi siswa dalam matematika yang dikeluarkan Depdiknas (2003: 5) yaitu:

1. Pemahaman konsep. Siswa mampu mendefinisikan konsep, mengidentifikasi, dan memberi contoh atau bukan contoh dari konsep tersebut. Untuk pemahaman konsep ini bisa diwadahi oleh model pembelajaran “bentang pangajen” pada langkah kedua, yaitu bina konsep.

2. Prosedur. Siswa mampu mengenali prosedur atau proses menghitung yang benar dan tidak benar. Untuk prosedur ini bisa diwadahi oleh model pembelajaran “bentang pangajen” pada langkah ketiga, yaitu bina ingatan.

3. Komunikasi. Siswa mampu menyatakan dan menafsirkan gagasan matematika secara lisan, tertulis, atau mendemonstrasikan. Untuk komunikasi ini bisa diwadahi oleh model pembelajaran “bentang pangajen” pada langkah ketiga dan empat, yaitu bina ingatan dan beri bintang. Pada langkah ke lima (bina hikmah), komunikasi lebih diperkuat lagi.

4. Penalaran. Siswa mampu memberikan alasan induktif dan deduktif sederhana. Untuk penalaran ini bisa diwadahi oleh model pembelajaran “bentang pangajen” pada langkah ketiga, empat dan kelima, yaitu bina ingatan, beri bintang dan beri hikmah.

5. Pemecahan masalah. Siswa mampu memahami masalah, memilih strategi penyelesaian, dan menyelesaikan masalah. Untuk pemecahan masalah ini bisa diwadahi oleh model pembelajaran “bentang pangajen” pada langkah ketiga, yaitu bina ingatan.

Matematika umumnya identik dengan perhitungan angka-angka dan rumus-rumus, sehingga muncullah anggapan bahwa skill komunikasi tidak dapat dibangun pada pembelajaran matematika. Anggapan ini tentu saja tidak tepat, karena menurut Greenes dan Schulman, komunikasi matematika memiliki peran: (1) kekuatan sentral bagi siswa dalam merumuskan konsep dan strategi matematika; (2) modal keberhasilan bagi siswa terhadap pendekatan dan penyelesaian dalam eksplorasi dan investigasi matematika; (3) wadah bagi siswa dalam berkomunikasi dengan temannya untuk memperoleh informasi, membagi pikiran dan penemuan, curah pendapat, menilai dan mempertajam ide untuk meyakinkan yang lain (dalam Ansari, 2004: A5-3). Hal senanda dikatakan oleh Nuryani, bahwa kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu syarat yang memegang peranan penting karena membantu dalam proses penyusunan pikiran, menghubungkan gagasan dengan gagasan lain sehingga dapat mengisi hal-hal yang kurang dalam seluruh jaringan gagasan siswa. Sejalan dengan itu, Lindquist (dalam Fitrie, 2002: 16) menyatakan bahwa kita memerlukan komunikasi dalam matematika jika hendak meraih secara penuh tujuan sosial, seperti melek matematika, belajar seumur hidup, dan matematika untuk semua orang.

Bahkan membangun komunikasi matematika menurut National Center Teaching Mathematics memberikan manfaat pada siswa berupa:

  1. Memodelkan situasi dengan lisan, tertulis, gambar, grafik, dan secara aljabar.
  2. Merefleksi dan mengklarifikasi dalam berpikir mengenai gagasan-gagasan matematika dalam berbagai situasi.
  3. Mengembangkan pemahaman terhadap gagasan-gagasan matematika termasuk peranan definisi-definisi dalam matematika.
  4. Menggunakan keterampilan membaca, mendengar, dan menulis untuk menginterpretasikan dan mengevaluasi gagasan matematika.
  5. Mengkaji gagasan matematika melalui konjektur dan alasan yang meyakinkan.
  6. Memahami nilai dari notasi dan peran matematika dalam pengembangan gagasan matematika.

Tampak jelas pada tahap ke tiga, empat, dan lima pada pembelajaran model “bentang pangajen”, skill komunikasi matematika siswa secara tertulis dan lisan cukup terwadahi. Sehingga bisa dikatakan bahwa pembelajaran model “bentang pangajen” adalah aktivitas yang produktif yang dapat mendukung berkembangnya kemampuan komunikasi matematika siswa.

Pada tahap ke tiga, empat, dan lima pada model pembelajaran “bentang pangajen” ada aktivitas guru yang menumbuhkembangkan kemampuan komunikasi matematika siswa, di antaranya adalah:

1. Mendengarkan dan melihat dengan penuh perhatian ide-ide siswa (lihat pada langkah ke tiga: bina ingatan).

2. Menyelidiki pertanyaan dan tugas-tugas yang diberikan, menarik hati, dan menantang siswa untuk berpikir (lihat pada langkah ke tiga: bina ingatan).

3. Meminta siswa untuk merespon dan menilai ide mereka secara lisan dan tertulis (lihat pada langkah ke empat: beri bintang).

4. Menilai kedalaman pemahaman atau ide yang dikemukakan siswa dalam diskusi (lihat pada langkah lima: beri hikmah).

5. Memutuskan kapan dan bagaimana untuk menyajikan notasi matematika dalam bahasa matematika pada siswa (lihat pada langkah ke tiga: bina ingatan).

6. Memonitor partisipasi siswa dalam diskusi, memutuskan kapan dan bagaimana untuk memotivasi masing-masing siswa untuk berpartisipasi (lihat pada langkah ke tiga dan empat: bina ingatan dan beri bintang).

 

Bentang Pangajen: Pembelajaran Matematika yang syarat nilai moral

Lembaga Political Economic Crisis Moneter Propensity yang berbasis di Hongkong, pada tahun 2005 mendudukan Indonesia sebagai peringkat negara terkorup se-Asia. Pada tahun 2007 menurun menjadi peringkat dua Asia, sedangkan peringkat satu diduduk oleh Filipina. Menurut lembaga Trasnparancy International, Indonesia memiliki peringkat 133 negara paling korup dari 162 negara yang diriset korupsi. Ini berarti Indonesia termasuk kelompok nomor 5 besar negara terkorup di dunia. Dalam bukunya yang berjudul Collaps, Jarred Diamen memprediksi Indonesia sebagai negara nomor 14 dunia menjadi salah satu contoh negeri yang akan gagal. Menurut Jarred prilaku korupsi yang terjadi di Indonesia adalah sumber masalahnya, dan sebagaimana banyak bangsa besar juga hancur karena korupsi sebut saja Majapahit sebagai feodalisme terbesar, Inggris sang penjajah yang berkuasa selama 233 tahun, Negara Romawi, Mogul, Turki, dan keruntuhan VOC di Indonesia sebagai perusahaan konglomerat di dunia. Semuanya dapat runtuh selain akibat perlawanan tetapi juga karena korupsi (kapanlagi.com).

Prilaku korupsi sendiri berawal dari sikap moral tidak jujur atau bohong, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Jika kita ingin memberantas korupsi ini, maka dari sisi sikap mental harus ditumbuhkan sikap jujur.

Institusi pendidikan yang bertugas membangun sisi kognitif, afektif, dan skill siswa mempunyai peran yang besar dalam menumbuhkembangkan sikap mental jujur. Jika tidak ingin bangsa ini terjebak pada “kegagalan” seperti prediksi Jarred Diamen, maka institusi pendidikan harus pula mengambil peran di dalamnya. Salah satu peran yang dapat diambil institusi pendidikan adalah “bagaimana guru mampu mengintegrasikan nilai moral pada proses belajar mengajar (PBM), termasuk PBM matematika?”.

Pembelajaran matematika, sekali lagi sering dituduhkan hanya berkecimpung dengan angka dan rumus, sehingga miskin muatan nilai. Maka pada pembelajaran model “bentang pangajen” nilai moral diintegrasikan pada PBM matematika. Pembelajaran model “bentang pangajen” yang syarat dengan muatan nilai moral, terutama pada langkah ke empat dan lima, yaitu beri bintang dan beri hikmah.

Pada langkah ke empat yaitu beri bintang, siswa melakukan kegiatan pemberian bintang, pada kelompok siswa lain yang dianggap layak dari beberbagai sisi sesuai dengan pendapat siswa. Pada tahap ini, ketika siswa akan menempelkan tanda bintang pada karya kelompoknya atau karya kelompok lain, konflik nilai akan terjadi. Konflik nilai yang paling penting adalah kejujuran. Apakah siswa berani jujur menilai berdasarkan perhargaan terhadap karya dan alasan yang terbaik, bukan berdasarkan hubungan kedekatan teman atau “ego” bahwa karya sendiri yang berhak mendapat bintang, atau karena iming-iming traktir saat istirahat sekolah.

Pada langkah ke lima yaitu beri hikmah. Guru dapat mengetahui alasan (reasoning) yang dikemukan para siswa, mengapa mereka menempelkan bintangnya pada kelompok tertentu. Dari alasan yang dikemukan oleh siswa, guru dapat mengidentifikasi nilai moral yang dianut siswa, apakah penilai siswa sudah berbasis kejujuran atau belum. Jika belum, maka guru pun dapat memberikan masukan berkaitan dengan hakekat kejujuran dalam menilai karya orang lain, berani mengatakan buruk jika memang buruk dan baik jika memang baik, menumbuhkan jiwa “sportifitas” pengakuan bahwa lawan memang lebih baik.

Jika langkah empat dan lima ini secara terus menerus diterapkan, maka akan terjadi sebuah “brainstroming” yang mampu menginternalisasi dan menjadi pembiasaan pada diri siswa. Paling tidak, langkah ini akan memberi sumbangan bagi terbangunnya mental kejujuran sejak dini.