Tag

, , , , ,

Eco ATK: Refill your Pencil & Pen!

Tahun 1990-an….Bogor adalah kota yang nyaman, sejuk dikala panas dan bertambah sejuk ketika hujan rintik-rintik menyapa….gelegar petir pun bukan sebuah ketakutan….tapi bagaikan petikan gitar Richi ‘Bon Jovi’ Sambora menambah semangat saat hujan deras menjerit.  Sindang Barang ke Baranangsiang hanya ditempuh dalam waktu kurang dari 20 menit.  Jalan raya sepanjang Gunung Batu, Merdeka, Sempur, dan Pajajaran melenggang….walaupun bemo bertebaran….tapi dedaunan sepanjang jalan mampu meredam para bemo yang tebatuk-batuk.

Kini, kesejukan Bogor mulai menyusut, seiring macetnya jalan sepanjang Gunung Batu, Sempur, dan Pajajaran.  Walau batuknya bemo tak ada lagi, tetapi asap yang dikeluarkan ribuan kendaraan tak mampu diserap oleh pepohonan di sepanjang jalan Bogor, bahkan Kebun Raya.  Bogor pun menjadi kota yang panas, sama panasnya dengan Jakarta.

Bogor memanas….adalah sebagian dampak dari perubahan iklimPerubahan iklim yang terjadi karena kita tidak bijaksana memperlakukan bumi dan berprilaku di bumi ini.  Apakah kita harus berdiam diri? Membiarkan semuanya terjadi? Bisakah kita berpartisipasi mengurangi dampaknya?  Perduli pada lingkungan, pada bumi tempat kita tinggal itulah yang  harus kita lakukan.

Matematika!!!!  Apa yang bisa diperankan oleh saya sebagai guru matematika dalam mengajak siswa saya perduli pada lingkungan, perduli pada bumi….? Pertanyaan itu bergelanyut dalam pikiran saya. Saya sadar bumi tempat satu-satunya kita menggantungkan hidup kita.  Berbagai ekspedisi sudah dilancarkan….tapi sampai kini belum ada satu planet pun yang bisa kita tempati, jadi tak mungkin kita migrasi kemana-mana.

Ah, saya tidak berpikir muluk-muluk dan besar, saya pun mulai melakukan hal yang kecil-kecil saja.  Dimulai dari memanfaatkan kertas bekas untuk soal ulangan atau jawaban dari ulangan!!! ya, di sekolah banyak sekali kertas bekas menumpuk, kertas yang sudah terisi bagian depan, tetapi bagian belakangnya masih polos.  Tumpukan kertas-kertas itu biasanya serta merta ditumpuk untuk dikilo dan dijual.  Saya mencoba memanfaatkan kertas itu untuk memprint/mencetak soal ulangan.  “Wah, Pak! Soal ulangannya yang mana?” “Irit banget si Bapak mah!”  “Ini buat kotretan bukan, Pak?” Begitulah seloroh para siswa, ketika saya menyodorkan kertas soal dan jawaban dari kertas bekas.  Seloroh itu saya jawab dengan ajakan keperdulian mereka menjaga planet ini!’ .  Kertas dibuat dari kulit kayu, kulit kayu didapatkan dari pohon, pepohonan itu hasil tebangan dari hutan, hutan berperan dalam menjaga dan menekan perubahan iklim.

Mungkin saya tidak mampu ikut dalam sebuah aksi eco-forestry seperti yang dilakukan oleh para aktivis GREENPEACE di Asia Tenggara, untuk menyelamatkan hutan dan melawan perubahan iklim.  Tetapi membiasakan perbuatan-perbuatan kecil dan dimulai diri sendiri bertujuan untuk mengurangi sampah, emisi, dan melestarikan hutan itu bisa dilakukan oleh kita semua.

Pada kegiatan belajar mengajar, barang-barang keseharian yang sering digunakan adalah kertas, pensil, ballpoint, dan spidol.  Tapi kita tak pernah sadar bahwa kebiasaan kita menggunakan barang-barang itu bisa turut memperparah kestabilan iklim di bumi ini.

Pensil, jenis pensil apa yang biasa kita pilih? pasti lebih banyak yang memilih pensil karbon/grafit berlapis kayu kan? Kenapa kita tidak menggunakan pensil mekanik saja? Jika pensil berlapis kayu akan habis dalam waktu tertentu dengan merautnya, ketika habis…berarti kita turut berpartisipasi menghabiskan kayu, yang berasal dari pepohonan di hutan, bukan? Bandingkan jika kita gunakan pensil mekanik? pensil mekanik bisa awet bertahun-tahun, dan tinggal memasukan isinya saja, jika dalam satu tahun kita menghabiskan 12 belas pensil, kalau di Indonesia ada 10 juta siswa yang menggunakan pensil berlapis kayu, berapa kayu yang terbuang percuma?   Dengan pensil mekanik, pembuangan kayu itu bisa dikurangi….

Ballpoint, seperti apa kita menggunakan ballpoint? apakah setelah habis langsung dibuang atau setelah habis kita mengisi ulang?  Kebanyakan siswa zaman sekarang membeli ballpoint yang harganya 2000, dan ketika habis membuang semua ballpoint tersebut.  Jika melakukan perbuatan tersebut, maka ada dua sampah plastik yang dibuang, yaitu isi ballpoint dan pembungkusnya.   Jika kebiasaan membuang ballpoint dilakukan oleh 20 juta pelajar Indonesia setiap bulannya, berapa jumlah sampah plastik yang disumbangkan? Oleh karena itu mengapa tidak beralih ke Refill?  Jika melakukan refill, maka kita telah mengurangi hampir setengah sampah plastik dari ballpoint ini.  Karena pembungkus tinta akan awet, saya sampai kini masih menggunakan ballpoint yang sama sejak tahun 2000, sudah hampir 10 tahun.

Spidol, pada tiap semester sekolah menyediakan dua spidol bagi tiap guru.  Isi spidol akan habis dalam satu bulan.  Mana yang dipilih membuangnya dan meminta yang baru atau mengisi ulang?  Selama ini kami melakukan isi ulang, bukan sekedar berhemat, tetapi bertujuan mengurangi sampah plastik.

Reuse & Refill on Alat Tulis Kantor (ATK).…itulah yang bisa saya lakukan sebagai seorang guru, tidak hanya bagi diri saya dan keluarga tetapi saya tularkan dan kampanyekan dan biasakan pada para siswa di Bogor.  Saya menyebut gerakan ini sebagai “eco-ATK“.  Kata eco bisa bermakna ecology dan economics…. karena kegiatan reuse dan refill yang dilakukan selain memberi sumbangan secara ekologi yaitu mengurangi penebangan kayu dan sampah plastik, juga secara ekonomi akan menekan pengeluaran biaya alat tulis kantor. Slogan dalam gerakan eco-ATK yang bisa saya dengungkan pada siswa saya adalah:

REFILL YOUR PENCIL AND PEN!

Eco-ATK merupakan kegiatan pengembangan nilai-ni lai cinta terhadap lingk ungan yang dilakukan di rumah dan sekolah.   Sebuah kegiatan yang sederhana tetapi punya berdampak besar dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan menekan perubahan iklim.

Semoga banyak guru yang ikut berpartisipasi juga……!