Tag

,

Masih hangat dalam ingatan kita, berita seorang ibu sebut saja ibu Siami dari anak yang sekolah di SD melapor bahwa terdapat perilaku tidak terpuji yang dilakukan oleh “sekolah” karena anaknya telah diberi jawaban dalam ujian nasional baru-baru ini.

Beberapa tahun lalu juga ujian nasional menjadi perdebatan yang membuat negeri ini menjadi hangat, silang pendapat terjadi janganlah ujian nasional dijadikan penentu kelulusan ada juga yang berpendapat tidak perlu ujian nasional diadakan karena membuat para siswa menjadi cemas, takut bahkan stress. Dan akhirnya kemendiknas menetapkan 60% dari nilai ujian nasional dijadikan penentu dalam kelulusan. Masih ada siswa yang tidak lulus di tahun 2011, dan ini wajar menurut saya karena dalam kegiatan itu mesti ada yang berhasil dan tidak berhasil atau ada yang lulus dan tidak lulus.

Tahun ini, kembali ramai pasca ujian nasional.

siapa yang membuat ramai?

sekolah kah?

ataukah guru?

Sepertinya pihak sekolah atau guru, kemungkinan kecil melaporkan kecurangan yang terjadi. Bahkan mereka cenderung mengatakan hal-hal yang baik saja, lantas apa yang menyebabkan mereka tidak bersuara?

Apakah ini merupakan hasil dari pendidikan karakter yang sedang digembar-gemborkan, sehingga kalangan pendidikan pun diam tak bersuara mengungkap apa sebenarnya yang terjadi dengan ujian nasional. Bila demikian ‘sangatlah berhasil‘ yang selama ini diberitakan perihal pendidikan berkarater….

Sebagai orangtua dari anak yang baru saja lulus mengikuti ujian nasional, merasa senang karena lulus tapi juga merasa heran karena nilai-nilai itu begitu spektakuler. Rata-rata nilai ujian nasional 9, awalnya saya berpendapat mungkin guru yang memberi nilai keliru namun setelah dilihat guru tidak keliru dalam menilai dan menulis.

Mungkin pertanyaan serupa banyak muncul dibenak para orantua yang tahu kemampuan anaknya, seperti apa yang dikemukakan oleh ibu Siami.

Dari uraian ini, marilah kita berkata jujur sehingga pendidikan karakter yang sedang digulirkan benar-benar menjadi harapan anak dan orantua agar menjadi manusia yang berbudipekerti, jujur, memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Janganlah kita biarkan pendidikan karakter malah bertentangan dengan nilai-nilai kejujuran dalam pelaksanaan ujian nasional yang merupakan bagian dari pendidikan.