Siapakah diantara anda yang menjadi 100 ribu pengunjung blog ini?
tunggu saja hadiah nya…
Siapakah diantara anda yang menjadi 100 ribu pengunjung blog ini?
tunggu saja hadiah nya…
Dulu…
Sewaktu baru lulus kuliah, begitu galau dan resah. Betapa tidak, kuliah yang ditempuh sekian tahun serasa tidak ada artinya. Buat apa ijazah ini…
Waktu itu, dipenghujung taon 2002. Beberapa PTS dan PTN sudah didatangi dan jawabnya mohon maaf sudah ada dosen yang mengajar mata kuliah ini dan itu…
Saya fikir, saya harus berjuang terus dan harus tetap terus mencoba. Walau dengan rasa letih dan risau akhirnya dapatlah PTN yang dituju serta mau menerima. Tahun Pertama, seperti halnya dengan yang lain yang baru saja masuk dalam lingkungan baru, masih terasa kaku. Tegur sapa seadanya dengan sesama teman, kecuali dengan satu teman yang berasal dari satu daerah.
Karena terbiasa mengajar di sekolah menengah masuk jam 7.00, pembiasaan itupun akhirnya terbawa ke tempat kerja yang baru. Saya bersama teman dari Bogor, berangkat setelah solat subuh. Huh ! masih gelap banget…kami sampai ke Ciputat jam 7.00 tapi apa yang terjadi?? terkadang ruangan masih terkunci rapat…hmmm lumayan lah itung-itung ada pengalaman baru heu…
Tahun demi tahun dilalui dengan baik bak mengarungi samudera yang nan luas, kini sudah 7 tahun berlalu kami bersama membagun jurusan Pendidikan Matematika UIN Syraif Hidayatullah Jakarta. Senyuman mantan Kajur Drs. H. Ali Hamzah, M.Pd yang khas yang menyejukkan hati, suara lantang ibu Dra. Maifalinda Fatra, M.Pd yang selalu menghiasi ruangan (kini Kajur Pendidikan Matematika), Ibu Dra. Afidah Mas’ud (sang Kandidat Doktor) dengan senyuman yang khas dan wejangan yang sangat menyentuh tapi dengan penuh kasih sayang, Aa Dr Kadir dengan celotehannya bak ustad kondang Aa Gym (hehe…ga mirip kali…), Ibu Dra. Tita ….(ibu Tita apa ya…lupa euy…) dengan gaya yang khas tapi tetap mengasikkan, Ibu Rini, M.Pd, Bapak Otong Suhyanto, M.Si yang selalu menebar senyuman (katanya sih senyum itu ibadah…) dan banyak lagi saudara seiman dan seperjuangan. Itu semua masih tetap terasa…
Mengajar adalah kegiatan yang sangat mengasikkan, apalagi kalau ngajarnya berdua dalam satu kelas dan mahasiswa yang diajar lain semester pula. Wuih…seru banget…Ini terjadi sekitar tahun 2005-2006, waktu itu kami ada jadwal mengajar di lantai 6. Tetapi ketika kami akan masuk kelas/ruangan, mahasiswa mengatakan “pak ruangan itu terkunci”, halah gimana atuh jawab saya…coba cari kuncinya dipetugas… Jawab mereka petugasnya sudah tidak ada, kemudian saya coba untuk tetap agar perkuliahan tetap berlangsung dengan cara bertanya pada mereka. ada ga ruangan yang bisa digunakan?
ini adalah kisah mengasikkan…
Kejadian ini pun sama dialami oleh teman saya yang hendak mengajar saat itu, karena bersamaan dan ketersediaan ruangan terbatas maka kami berebut memasuki ruangan itu. Apa yang terjadi? Akhirnya saya punya ide, bagaimana kalau di bagi dua. Sebelah kiri semester X dan sebelah kanan semester Y….dan…proses belajar hanya berlangsung sampai pada tahap menyampaikan tujuan pembelajaran dan hanya sekedar tugas untuk dibawa pulang ke rumah…
Kini…
itu tinggal kenangan… Saya mulai tahun ini mesti melepas semuanya, tapi bukan berarti harus melepas tali silaturahmi diantara kami.
Kadang masih teringat pesan tertulis dari mahasiswa pada lembar penilaian kinerja dosen:
Oh my lecturer, Don’t leave us…coz you’re my best lecturer….
Pa …jangan pergi dulu, kasihan adikadik kelas…
Pa jangan tinggalkan kita ya! Tetap di UIN ya!!!
Awal pertemuan dalam pembelajaran adalah kunci kesuksesan, mengapa tidak?
Pandangan pertama sangat mengesankan adalah modal awal dalam setiap pertemuan, setelah itu proses dan frekuensi yang berperan dalam menilai apakah kegiatan selama pertemuan itu baik atau tidak. Tidak dapat dipungkiri pertemuan diakhir kegiatan juga sangatlah menentukan kwalitas dari kegiatan tersebut.
Berikut saya utarakan beberapa tips untuk guru bagaimana mempersiapkan, memulai proses pembelajaran, dan mengakhirinya bahkan sampai pada tahap evaluasi. Tips tersebut sengaja disampaikan dalam bahasa aslinya, karena khawatir bila salah menafsirkan.
Inilah cuplikannya…
Tak terasa sudah genap usia bertambah…
16 tahun sudah berlalu guru muda yang energik terus melaju…
menggapai angan nan jauh disana…
sederhana, tak banyak ulah, hanya satu obsesi memajukan pendidikan di negeri ini
namun kini usia menjelang 40 tahun belumlah cukup waktu untuk berkarya demi anak bangsa
dapatkah obsesi itu tergapai…??
Selamat Hari Guru…
Semoga pengorbanan yang engkau curahkan setidaknya dapat mengangkat harkat dan martabat anak didikmu wahai guruku….
Prestasi belajar matematika mengkhawatirkan bahkan mungkin lebih rendah bila dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya. Beberapa pelajar tidak menyukai matematika karena matematika penuh dengan hitungan dan miskin komunikasi. Beberapa pelajar juga berpikir bahwa matematika pelajaran yang membosankan, karena penuh rumus dan miskin nilai moral. Kebanyakan pelajar tidak merasa senang ketika belajar matematika. Bentang pangajen adalah sebuah model pembelajaran yang menyajikan pembelajaran matematika dengan menyenangkan dan juga membangun keterampilan komunikasi dan nilai moral. Ada lima langkah dalam model pembelajaran bentang pangajen, yaitu bina suasana, bina konsep, bina ingatan, beri bintang, dan beri hikmah. Keterampilan komunikasi akan terbangun pada langkah ke tiga sampai lima dari model pembelajaran bentang pangajen. Nilai moral siswa akan terbangun pada langkah ke empat dan lima dari model pembelajaran bentang pangajen.
Pemuda artinya orang muda baik laki-laki atau perempuan, bisa juga dikategorikan sebagai remaja bahkan dalam kamus besar bahasa Indonesia mengkategorikan sebagai calon pemimpin bangsa.
Bila kita tengok pada masa abad 20-an, Jean Piaget seorang ahli ilmu jiwa bangsa Swiss dengan teori belajar mengajar yang terkenal dengan sebutan teori perkembangan mental mengelompokkan anak dewasa pada usia 11-12 tahun ke atas. Artinya bahwa dewasa adalah telah memiliki kematangan berpikir.
Dua uraian di atas menunjukkan bahwa pemuda adalah remaja yang telah memiliki kematangan dalam berpikir sehingga diharapkan dapat menjadi pemimpin bangsa ini. Tidaklah heran bila pada tanggal 27 Oktober 1928 Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh indonesia yang telah memiliki kematangan dalam berpikir menggagas Kongres Pemuda Kedua, kongres ini dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat.